Bab 8 - Kegembiraan Budak, Kesedihan Budak




Aku mengajak Risha dan pergi untuk mengumpulkan sisa rambut elka yang tertinggal.

"Ada begitu banyak …… Apa Master yang mengumpulkan semua ini?"
"Ya"
"Hebat sekali Master!"
"Itu semua berkat kamu"
"Eh? Tapi aku tidak melakukan apa-apa?"
"Tidak, berkatmulah aku bisa mengalahkan elka dengan sangat mudah."

Ucapku selagi menunjuk Eternal Slave yang tergantung di pinggangku.

Eternal Slave adalah pedang yang dibuat dengan menggunakan rambut Risha dan diperkuat oleh sihir dari senyum Risha.

Sudah pasti berkat pedang ini aku bisa mengalahkan monster yang menghabiskan waktu bertarung melawannya selama berjam-jam, menjadi sekejap. Itulah mengapa ini semua berkat Risha.

Risha tampak malu-malu, tapi dia tidak membencinya sama sekali.

—Sihir telah diisi sebesar 2.500—

Saat sihir ku sedang diisi,
"Yo, lama tak jumpa."

Ketika aku mendengar suara itu, aku berbalik.

Di sana aku melihat Seiya dan budaknya.

Eternal Slave ‘elf’ nya yang berambut pirang sedang ditarik dengan tali di kalung budaknya.

Perlakuan "budak" yang sebenar-benarnya.

........ Apa begitu cara memperlakukan seorang budak?

Aku menanggapinya saat sedang berpikir.

"Sudah lama sekali."
"Bagaimana kabarmu?"
Seiya menyeringai dan bertanya.

Aku tahu maksud wajah itu. Itu wajah seseorang yang tidak sabar untuk membual tentang diri mereka dan menyombongkan keunggulan mereka.

"Masih baik ... Aku sedang mengumpulkan bahan sekarang."
"Material, yang kau maksud itu? Mau kau apakan ‘benda’ itu?"

'Benda' itu ‘kah ...

"Yah, ini dan itu. Bagaimana denganmu?"
"Aku baik. Oh ya, aku ingin memberitahumu sesuatu yang bagus."
"Sesuatu yang bagus?"
"Ketika membuat sebuah benda, kau bisa menggunakan beberapa bahan berbeda untuk membuatnya. Misalnya pedang besi ini."

Ucap Seiya sembari menunjukkanku pedang besinya. Sama persis dengan yang kubuat sebelumnya.

"Ini tuh, terbuat dari pedang tembaga."
"Begitukah?"

Aku sedikit terkejut, tetapi dengan ekspresi yang berbeda.

Senang dengan reaksi yang kuperlihatkan, Seiya melanjutkan perkataannya.

"Jika kamu membuat pedang tembaga maka gunakan tembaga sebagai dasar untuk membuat pedang besi, kamu dapat menghemat material, tahu? Yah memang sih proses pembuatannya membutuhkan lebih banyak sihir ..."
"Begitu ya."

Itu sangat mudah dimengerti.

Material dapat dihemat dengan menggunakan lebih banyak waktu dan sihir.

Tentu saja cara sebaliknya juga sama.

"Kamu tidak bisa melakukannya tanpa sihir yang cukup, sih..."
"Itu benar"
"Yah, soal sihir aku bisa menggunakannya sebanyak yang aku mau, jadi itu tidak masalah."

Kata Seiya, lalu menendang budaknya dengan kejam tanpa peringatan apapun.

Dia menendang sambil menarik talinya. Kalung budak mulai mencekiknya.

Budak itu menderita dan air matanya menetes.

Di sampingku, Risha juga tampak sedih.

Ketika kedua tatapan mata mereka bertemu, mereka berdua tampak semakin sedih dan sedih.

"Oh?"
"Apa yang salah?"
"Aku mendapat lebih banyak sihir dari biasanya. Biasanya aku cuma dapat sekitar 200 tapi kali ini 250."

O ... ohhh ... ..

"Mungkinkah karena dia sedang ditonton orang? Hmmm ..."

Seiya tersenyum saat melihat budaknya. Dia benar-benar terlihat seperti orang sadistik.

"I-itu tidak benar"
"Tidak benar? Hmmm?"
"Tidak, tidak——"
"Jilat sepatuku."

Seiya memberinya perintah tanpa membiarkan dia menyelesaikan kalimatnya.

Budak itu terus menangis, namun dia tetap menjilat sepatu Seiya.

Ketika Seiya mendapati bahwa dirinya merasa puas, dia memasang senyum licik di wajahnya.

"Kukuku, ini dia. Sihirku meningkat sekitar 30% saat kamu sedang ditonton. Sihirku meningkat 300."
"…..Hentikan."
"Apa yang perlu dikasihani dari seorang budak? Jika terus seperti itu hidupmu akan sulit."
"………"
"Yah sudahlah, sampai jumpa."

Seiya menarik budaknya dan pergi, wajahnya dipenuhi dengan ekspresi sombong.

……… ughhhh….

Bodo amatlah, ayo cepat kita kumpulkan rambut elka nya, dan pulang.

Pikirku, kemudian aku menyadari bahwa Risha diam-diam menatap Seiya dan budaknya saat mereka pergi.

Tatapannya sedikit berbeda dari yang sebelumnya. Sebelumnya dia tampak sedih, tapi sekarang ... menurutku, tatapan itu penuh dengan rasa iri.

Tatapannya seperti anak kecil yang memandangi mainan dambaannya di toko.

"Risha"
"Eh? Maafkan saya Master. Akan segera saya kumpulkan materialnya."
"Tidak apa-apa, tapi, kenapa kamu memandangi mereka?"
"Eh? I-itu ……."

Risha terllihat gelisah dan ragu-ragu.

"Ka ... kalung itu ..."
"Kalung budaknya?"
"Aku hanya berpikir bahwa kalung itu bagus ..."
"…… Apa kamu menginginkan sebuah kalung budak?"
"Iya……."
TLNote: Kalung budak yang itu loh... kayak di serial Isekai Maou Dorei Majutsu
EDNote: Kasih lah fotonya BUJANK!!
TLNote: Nanti ada Kimaq. Santai aja.

Risha mengangguk dan menutupi kepalanya.

Setelah dia mengatakan itu, wajahnya dipenuhi dengan ekspresi malu.

Sepertinya dia benar-benar menginginkannya.

"Kalau kamu benar-benar menginginkannya maka aku akan membuatkannya untuk mu."
"Benarkah!?"

Dia seketika mengangkat kepalanya dan menatapku dengan mata berkilauan.

........Kurasa aku tidak perlu bertanya ...

Aku membuka menu dan memilih kalung budak, lalu aku menempatkan lingkaran sihir.

"Kalau begitu--"
"Ah, Risha tunggu di sini."
"Eh?"
"Karena itu spesial, aku akan membuatkannya untukmu."

Meninggalkan Risha di sana, aku mulai berlari ke arah yang ditunjuk panah.

Ada tiga material yang dibutuhkan. Material itu adalah kulit monster, batu permata mentah, dan bulu ulat putih.

Aku mengumpulkan material itu dan menempatkan materialnya di dalam lingkaran sihir dan kalung budak buatan.
Ada permata di tengahnya, permata itu membuatnya terkesan seperti sebuah kalung mahal.

Ketika aku memberikannya kepada Risha dia tampak bahagia dan mengusapnya dengan penuh cinta.

"Terima kasih banyak, Master!"

Ketika Risha memasangkannya di lehernya, dia tampak senang sembari tersenyum cerah.




Sihir telah diisi sebesar 10.000.
Pengisian sihirku jauh lebih banyak dari Seiya.

Facebook twitter Google+

Related Post

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Komentar