Bab 1: Kekuatan Tak Terbatas


"10,000??"

Suara yang berbicara di kepalaku mengatakan bahwa DORECA telah terisi 10,000.

Jika aku ingat betul Seiya tadi bilang bahwa sihirnya telah terisi 100.

Aku tidak melakukan apa-apa namun aku menerima 100 kali lebih banyak Poin Sihir

Ini…. Apa arti dari ini?
[Kamu telah menyelesaikan pengisian sihir pertamamu.]
"U-uhh."
[Sama seperti ini, kamu dan budakmu dapat mengisi sihirmu sesuai dengan ini.]

Tanpa memperhatikan pertanyaanku, Illya memberiku penjelasan macam pembisnis.

Yah, aku sebenarnya tidak melakukan apa-apa? Jika aku harus mengatakan sesuatu maka yang aku lakukan hanyalah berjabat tangan?

Aku bertanya, tetapi Ilia mengabaikannya dan terus berbicara.

[Kumohon, pullihkan dunia ini sebaik yang kamu bisa.]

Pada saat itu, Risha (diucapkan Reesha) dan aku mulai ditelan di dalam cahaya yang terang.

Cahayanya terlalu menyilaukan hingga aku ‘tak dapat membuka mataku.

[Kumohon…..]

Suara Ilia kian menjauh.

Setelah beberapa saat, cahayanya meredup.

Aku membuka mataku. AKu tidak lagi berada di atas awan melainkan berada di padang gurun yang luas.

Tidak ada apapun…. Hanya padang gurun kosong sejauh mata memandang.
Di sampingku, Risha memiliki ekspresi cemas saat ia melihat sekeliling secara sembunyi-sembunyi.

"Kita sudah diusir, ‘kah? Yah, sama saja dengan Seiya…"

Sekarang setelah aku memikirkannya, aku melihat sekeliling. Seiya dan budaknya tidak terlihat.

Tidak ada jejak kaki atau jejak kehadiran mereka sehingga mereka mungkin dikirim ke suatu tempat yang berbeda.

"Master" (TLNote: RAW-nya Goshujin-sama)

Risha berbicara dan menunjukkan jarinya ke sisi lain sambil menatapku.

Aku melihat ke arah yang ia tunjuk, dan disana aku melihat sesuatu yang mirip seperti sebuah rumah.

Itu adalah rumah jerami bundar; itu seperti tempat tinggal pada masa Periode Jomon.

Kemungkinan seperti ini rumahnya.

Tidak ada yang lain di sekitar sini, hanya ada satu rumah itu.

"Itu seperti sebuah rumah…"
"Ya."
"Aku ingin tahu apakah ada yang tinggal disana? Bagaimana kalau kita melihatnya?"
"Baik."

Risha dan aku mulai berjalan menuju rumah itu di samping satu sama lain.

Dikarenakan dia adalah budak, Risha berjalan selangkah dibelakangku.

Ketika kami mendekati rumah, aku memanggil.

"Permisi! Apakah ada orang di rumah?"
"Siapa disana…..?"

Aku mendengar jawaban. Suaranya terdengar sangat lemah.

"*Uhuk*Uhuk* Maafkan aku, saat ini aku tidak bisa berdiri….."

Risha dan aku saling bertukar pandang lalu masuk ke dalam.

Ruangan itu kosong kecuali pria yang tergeletak di dalamnya.

Pria itu mengangkat tubuhnya dengan siku dan memandang kami.

"Manusia…..? Dan seorang Eternal Slave, ‘kah? Sudah lama sejak terakhir kali aku melihatnya…."

Pria itu mengatakan ini kemudian mulai batuk lebih keras.

Itu adalah batuk yang parah yang bisa kau bilang menyakitkan hanya dengan melihatnya.

"Apakah kau sakit karena sesuatu?"
"Ahh, sejak beberapa saat yang lalu—–*Uhuk!* *Uhuk!*"
"Apakah kau sudah pergi ke Dokter?"
"Dokter?"

Pria itu tertawa lemah.

"Memangnya hal semacam itu masih ada di dunia yang hancur ini?"
"Muu……"

Pria itu mengangkat bahunya yang lemah, dan memberikan senyuman tak bernyawa seolah-olah dia menyerah dalam segala hal.
Dengan melihatnya saja sungguh menyakitkan.
"*Uhuk! *UHUK UHUK!*"

Pria itu mulai batuk lebih banyak. Dan batuknya pun lebih parah dibanding sebelumnya, dia kehilangan kesadaran dan pingsan dengan terlentang.

Aku punya firasat kalau pria ini menderita penyakit parah hanya dengan melihatnya.

Aku ingin membantunya…tapi aku bukan dokter.

Kemudian RIsha dengan takut memanggilku.

"Ummm……Master. Bukankah itu baik-baik saja jika Anda membuat obat untuknya?"
"Obat?"
"Ya, karena Master bisa membuat berbagai benda…."
"Ahh, yang ini huh?"

Aku berkata dan teringat pada DORECA.

Aku mengeluarkannya dan menatapnya dengan intens.

Tentunya aku diberitahu kalau aku bisa membuat berbagai hal dengan ini.

"Menu Open"

Aku ingat apa yang dikatakan Ilia dan meneriakkan kalimat seperti mantra.

Dan tiba-tiba kata-kata muncul di depan mataku.

Sebuah jendela mirip monitor PC terbuka di depan mataku dan di dalamnya ada kata-kata dalam baris yang rapi.
—————————————
Akito
Tipe: Normal Card
Magic Power Level (Poin Sihir): 10,000
Jumlah Item yang Dibuat: 0
Jumlah Budak yang Dimiliki: 1
—————————————–
Sepertinya itu semacam Layar Status.

Dan dibawahnya ada deretan kata-kata.

Diantaranya kutemukan "Panacea (Cure-all) 300".

"Kira-kira apa Panacea ini bisa…..mari kita coba."

Aku menyentuhnya untuk menccobanya.

Jari yang menyentuh layar mulai bersinar.

"Lalu tolong sentuh tanah dan amati."

Aku menyentuh tanah seperti kata Risha.

Cahaya itu dipindahkan ke tempat yang saya sentuh. Cahaya menyebar dan berubah menjadi formasi sihir.

Dari formasi sihir, panah dengan warna yang sama dengan cahaya itu yang keluar dan menunjuk ke arah cakrawala.

Dan Poin Sihirku berkurang 300 menjadi 9700.

"Jika Anda memasukkan bahan yang diperlukan ke dalam formasi itu, Anda akan menyelesaikannya."
"Apa bahan-bahan itu —– ah, tertulis di sini bukan?"

Itu ditulis di dalam menu yang terbuka. Saat saya menyentuh Panacea, sebuah layar pop-up muncul, "Rumput Abunoi x5" ditampilkan.

"Jadi aku harus menggunakan 5 dari Rumput Abunoi ini kan? ... ah, apakah mungkin panah ini menunjukkan arah materialnya?"
"Iya."
"Baiklah, ayo kita pergi mengambilnya."

Kami meninggalkan rumah dan mengikuti arah yang ditunjuk panah.

Setelah berjalan sekitar 100 meter, aku melihat tanah bersinar.

Itu adalah tempat yang langka di gurun ini yang memiliki rumput. Rumput itu bersinar.

Itu bersinar dengan cahaya berwarna yang sama dengan lingkaran sihir.

"Apakah ini?"
"Mungkin"
"Kalau begitu, ayo ambil 5 bagian." (TLNote: Saya sedikit bingung dengan 5 bagian, harusnya ikat. Tapi di sumber begitu ya ikuti saja.)

Itu adalah rumput yang cukup panjang sehingga butuh beberapa menit untuk menariknya keluar, lalu kami membawanya kembali ke rumah pria itu.

Di dalam rumah saya menempatkan Rumput Abunoi ke dalam lingkaran sihir.

Lingkaran sihir bersinar secara tiba-tiba dan menelan rumput.

Tiba-tiba rumput berubah menjadi botol. Botol kaca kecil dengan cairan di dalamnya.

"Inikah Cure-All, ya? ...... untuk sekarang mari kita minum dan lihat ..."

Saya membuka mulut pria yang tidak sadar itu dan meminumkan obatnya.

Setelah menunggu sesaat, pria itu bangun.

"Oh maaf, sepertinya aku pingsan lagi."
"Tidak apa-apa, tapi bagaimana perasaan tubuhmu sekarang?"
"Bagaimana perasaanku? Mmm"

Pria itu menatap tangannya sambil mengepal dan melebarkannya.
"Aku……sembuh?"

Pria itu berdiri lalu mulai menari dan melambaikan tangannya

"Aku merasa lebih baik! Aku sembuh! Tadinya aku merasa Lelah dan kesakitan tapi sekarang aku seperti tidak pernah sakit!"
"Itu bagus."
"Bagaimana ini bisa terjadi?"
"Aku meminumkanmu obat yang kubuat."
"Obat? Apa kau seorang dokter?"
"Ini berbeda—— yang bisa kulakukan hanya membuat berbagai hal menggunakan sihir, itu saja."

Sampai sekarang aku merasa lebih percaya diri jadi aku menjawabnya seperti itu.

Pria itu terkejut.

"Dengan sihir? Membuat sesuatu?"
"Uhuh"
"...... Aku tidak benar-benar mengerti, tapi terima kasih!"
"Mhmm"
"Namaku Madway, kamu?"
"Aku Akito."
"Begitu. Terima kasih Akito! Sungguh terima kasih banyak!"

Madway mengucapkan terima kasih banyak kepadaku.

Terima kasih ya?

Aku menoleh untuk melihat Risha yang ada di belakangku.

"Terima kasih Risha"
"Eh?"
"Berkat saranmu."
"Itu ... aku hanya melakukan apa yang diharapkan dari diriku sebagai budakmu."
"Meski begitu, terima kasih. Aku senang kau bersamaku."
"Master……"

Risha tersenyum malu.

—Poin Sihir telah diisi oleh 3000—

Saat Risha tersenyum, aku mendengar suara di kepalaku berbicara sekali lagi. Kali ini diisi 3000 dan jumlah akhirnya 12.700.

Meski jumlahnya beda, itu sama seperti pengisian pertama.

Mungkinkah ...... senyumanlah yang mengisi sihirku?

Facebook twitter Google+

Related Post

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Komentar