Bab 1 - Pertemuan yang Memulai Itu Semua | Bagian C



======================
Penerjemah : Lemon
Editor : Arkais
======================



Posenya sangat sempurna, hingga membuat Oscar merasa jengkel. Melihat pemandangan tak terduga ini, Oscar bereaksi dengan satu-satunya cara yang ia bisa lakukan.
“Maaf, sepertinya aku salah masuk rumah.” ia menutup pintu ruang makan dan keluar.
Aku pasti memasuki rumah yang salah. Haha, mungkin aku terlalu kelelahan setelah bekerja begitu keras.
Namun,  gadis misterius dan ceria ini, tidak bermaksud membiarkan Oscar pergi begitu saja.
“Tunggu, jangan pergi begitu saja! Aku tidak percaya kau menutup pintunya di depanku! Seorang gadis yang luar biasa cantiknya baru saja menawarkan dirinya kepadamu. Seharusnya kau menangis bahagia sekarang! Aku tahu kau ingin menatap kaki yang sempurna ini! Di antara rok dan lututku, aku memperlihatkan paha yang mulus ini. Aku tau kau tak bisa menolaknya. Kita berdua tahu bahwa kau adalah orang yang sangat mesum, O-kun!”
Ah, Diamlah. Berhenti bertingkah seperti kau dan aku adalah teman baik, bahkan aku tidak mengenalimu. Selain itu, kau benar-benar tidak waras.
Dalam sekejap, Oscar dapat menilai seperti apa sifat gadis ini.
He adjusted his glasses and spoke as calmly as he could.
Ia membenarkan posisi kacamatanya dan berbicara setenang mungkin.
“Kau bilang namamu Miledi, ‘kan? Kelihatannya kau berkeluyuran di rumah yang salah. Sebentar lagi, hari mulai malam. Sebaiknya kau kembali ke rumahmu. Jika kau sengaja datang ke sini, itu berarti kau masuk tanpa izin. Di Velka, masuk tanpa izin adalah kejahatan yang serius. Jika kau tidak pergi dalam tiga detik, aku harus menahanmu.” kata Oscar sambil tersenyum lebar saat mengancamnya.
“Itu sama sekali bukan ancaman yang menakutkan bagiku! Kau jelas-jelas ingin aku pergi dari sini! Kejamnya! Aku akan memberitahumu bahwa ini adalah takdirku untuk bertemu denganmu, O-kun…"
“Baiklah, waktumu sudah habis. Angkat tanganmu.”
Oscar mengeluarkan benda kecil dari dalam sakunya. Itu adalah alat pemancar-penerima. Jaraknya terbatas pada ibu kota, namun merupakan peralatan berharga yang biasanya hanya dimiliki oleh bangsawan yang cukup kaya. Tentu saja, ia membuatnya sendiri.
Gadis itu mengetahuinya, dan ia mulai panik. Saat itu juga, beberapa anak melompat untuk melindungi gadis itu.
“Waaaaaaaah! Onii-san, Tunggu!”
“Ia bukan orang yang mencurigaka— Baiklah! Mungkin agak mencurigakan, tetapi ia tamu kami!”
Onii-chan, tolong maafkan dia. Aku juga akan minta maaf! Maaf ia sangat menyebalkan.”
“Aku tidak bersalah, Onii! Itu semua salah gadis berisik itu!”
Anak-anak merangkak keluar dari berbagai tempat persembunyian di ruang makan. Alasan kenapa Oscar dapat menangani Miledi dengan tenang karena ia melihat anak-anak itu mengintip keluar dari tempat persembunyian mereka ketika ia membuka pintu lagi.
“M-Mendengar mereka mencemoohku dengan acuh tak acuh membuatku agak tersakiti…” gumam Miledi sambil merasa malu. Oscar menghela napas dan berbalik menghadap seorang wanita tua yang baru saja berjalan ke ruang makan.
“Aku tidak percaya bahkan kau terlibat dalam hal ini, Bu…”
“Maafkan ibu, tetapi Miledi-san terlihat sangat bersemangat tentang lelucon ini. Selain itu, ibu tidak pernah melihatmu terkejut oleh apapun. Jadi, ibu pikir ini akan menyenangkan.”
“Menyenangkan, ya…? Ya, itu tidak begitu terlalu menyenangkan bagiku. Aku sangat mengkhawatirkan kalian.” Oscar menghela nafas lagi.
Moorin, pemilik panti asuhan dan ibu pengganti bagi semua anak di sana, tersenyum padanya. Ia mendekati usia tujuh puluhan, tetapi terlihat masih muda ketika tesenyum.
Begitu semua orang sudah tenang, Oscar duduk bersama anak-anak untuk makan malam. Gadis yang menyebut namanya Miledi itu, ikut bergabung bersama mereka. Tampaknya ia datang ke sini karena mempunyai urusan dengan Oscar. Oscar bertanya alasan mengapa ia datang kesini, tetapi kemungkinan ceritanya akan panjang, jadi atas saran Moorin mereka memutuskan untuk makan malam terlebih dahulu.
Cara makannya yang halus menunjukkan bahwa Miledi adalah orang yang berpendidikan. Kedua gadis berusia 17 tahun yang duduk bersebelahan di sampingnya, Corrin dan Katy, mulai berbisik antara satu sama lain.
Mereka berdua tersipu malu, melirik Oscar, kemudian berbisik satu sama lain. Ia ragu mereka sedang mengatakan sesuatu yang baik tentang dirinya. Ia menatap Miledi dengan curiga, tetapi Miledi hanya tersenyum pada Oscar.
God, she’s annoying. Oscar desperately wanted to say that to her face. But he didn’t. He didn’t want to set a bad example for his cute little sisters.
“Ya Tuhan, dia menyebalkan.” Oscar sangat ingin mengatakan itu ke wajahnya. Tetapi ia tidak melakukannya. Ia tidak ingin memberikan contoh buruk bagi adik-adik perempuannya yang imut.
Corrin mengikat rambut merahnya ke belakang menjadi kincir kuda dengan gaya yang sama seperti Oscar. Dari semua anak di panti asuhan, dia yang paling pemalu. Penampilannya yang seperti anak anjing juga bisa membuatnya langsung dicap sebagai budak dari siapapun yang bukan keluarganya.
Katy, di sisi lain, menjaga rambut coklatnya agar tetap dikuncir. Ia adalah anak yang paling tidak percaya pada siapapun selain Oscar dan anak-anak di panti asuhan.
Fakta bahwa kedua gadis itu bisa rileks dan bersantai di depannya menunjukkan bahwa walaupun menjengkelkan dan mungkin sedikit miring otaknya, ia bukanlah orang yang jahat.
Oleh karena itu, Oscar tidak berpikir menghinanya adalah tindakan yang benar.
“Ternyata begitu. Jadi O-kun adalah kakak yang baik dan dapat diandalkan.
“I-Iya! Onii-chan bisa melakukan apa saja!” Corrin tersenyum dan dengan bangga membusungkan dadanya. Oscar tersenyum.
Miledi tersenyum lebar. Oscar mengerutkan keningnya sebagai balasan.
Anak-anak lupa dengan makanan mereka dan malah menjelaskan kepada Miledi betapa menakjubkannya Oscar.
“Itu benar, Miledi-san. Semua mainan dan barang-barang yang di dalam rumah dibuat oleh Onii-san, dan ia membuatnya saat masih seusiaku!”
Anak paling tua di panti asuhan, Dylan, membanggakan semua prestasi Oscar. Dia adalah penengah di antara semua anak-anak. Seperti Corrin, ia memiliki rambut coklat yang di kuncir sama dengan Oscar.
“Apakah kau tahu? Onii bekerja di Workshop Orcus! Pemimpin  Workshop Orcus mengatakan dia menginginkannya! Bukankah itu luar biasa!?” kata Katy dengan mata yang berbinar-binar
Onii-chan memberikan kami semua sesuatu untuk menunjukkan bahwa kami semua terhubung.” Corrin mengeluarkan koin kecil yang menggantung di lehernya. Anak-anak yang lain juga mengeluarkan koin mereka. Koin-koin itu sama sekali tidak terlihat berharga, sehingga tidak akan ada yang berusaha untuk mencuri koin-koin itu.
Tetap saja, Miledi tidak mengolok-olok mereka karena menyimpan koin-koin itu.
“Wow, kalian semua sangat dekat, ya!?” ia tampak sangat terkesan.  Anak-anak tersenyum bangga dan terus menghibur Miledi dengan kisah-kisah Oscar yang hebat.
“T-Teman-teman. Berhent—” dengan tersipu malu, Oscar mencoba untuk menghentikan mereka. Sebelum ia melakukannya,  Miledi menyela.
“Ceritakan lebih banyak, Onii-chan! Aku ingin mendengar betapa hebatnya kau, Onii-chan! pilihanku benar karena telah memilihmu, Onii-chan! Bukankah begitu, Onii-chan? Hei,  Onii-ch—“
“Panggil aku Onii-chan sekali lagi dan aku akan mengakhirimu.” walaupun Oscar tersenyum, matanya terlihat kejam. Ia berusaha bersikap sopan untuk memberikan contoh yang baik bagi adik-adiknya, tapi ia tidak tahan lagi.
“Ya ampun, kau punya sisi liar yang luar biasa, O-kun…” Untuk beberapa alasan, muka Miledi memerah.
“Tolong jangan panggil aku O-kun, juga.” Dia berhasil mengontrol emosinya dan terlihat tenang lagi.
Miledi menatapnya sejenak sebelum ia menjawab.
“Gak mau!” Sontaknya. Sebuah senyum keluar di wajahnya.
Terdapat bunyi yang keras ketika Oscar mematahkan garpu yang ia pegang.)
Dylan dan yang lainnya menoleh ke tangan Oscar. Ketika mereka melihatnya, garpu itu tampak seperti baru.
Ia memperbaikinya dengan kemampuan transmutasinya. Anak-anak memiringkan kepala mereka karena kebingungan.
“Wow, itu luar biasa! Aku belum pernah melihat sesuatu seperti itu!” Oscar bahkan sampai menyembunyikan cahaya mana-nya untuk memperbaiki benda itu secara rahasia, tetapi Miledi hanya  berbicara terus-menerus dan membongkar identitasnya.
Suara dingin yang terdengar lebih menjengkelkan dari suara Oscar, tiba-tiba menghancurkan keheningan tersebut.
“Bukankah kau hanya seorang pecundang sekarang?” Dylan dan anak-anak lainnya berbalik dengan terkejut.
Orang yang mengatakan itu adalah Ruth. Dia menatap ke bawah piringnya. Ruth memiliki rambut hitam yang runcing, dan baru-baru ini berusia 11 tahun.
“Hei, Ruth!” Dylan berteriak kepada Ruth. Akan tetapi, Ruth memandang dari atas piringnya dan menatap Dylan.
“Itu faktanya! Meskipun bekerja di Workshop Orcus, dia tidak membuat senjata apapun. Dia pecundang yang hanya menerima permintaan dari warga biasa! Semua orang tahu itu!”  Ruth dengan sengaja tidak memandang Oscar.
Seperti Oscar, Ruth adalah seorang Synergis.
Di antara anak-anak yatim, dialah yang paling mengagumi Oscar. Ketika Oscar masih tinggal di panti asuhan, Ruth selalu mengikutinya. Mereka berdua memiliki rambut hitam yang sama mencoloknya, dan orang-orang sering berpikir bahwa mereka berdua adalah saudara kandung.
“Ruth, minta maaf pada Oscar. Kau terlalu berlebihan.” Moorin telah tersenyum sepanjang waktu sampai sekarang, tetapi kata-kata Ruth, membuat dahinya mengerut. Suaranya lembut, namun tegas.
Ruth hesitated for a second, but then he stubbornly repeated himself.
Ruth ragu untuk beberapa saat, tetapi dengan keras kepala dia mengulanginya.
“Itu benar! Jika bukan seorang pecundang, maka seharusnya dia menunjukkan kekuatannya kepada semua orang! Jika dia menunjukkan betapa hebat kekuatannya, maka semua orang bodoh itu akan diam, tetapi dia tidak melakukan apapun! Kau tahu kenapa? Karena dia tidak bisa! Dia hanya tersenyum seperti orang bodoh sepanjang waktu dan tidak mengatakan apapun! Dia hanya orang lemah yang tidak mau melawan balik!” Rasanya seperti sesuatu meledak dalam dirinya. Begitu kata-katanya mulai keluar, dia tidak bisa berhenti.
Rasanya seperti dikhianati, melihat orang yang sangat ia kagumi berakhir seperti ini.
Oscar juga mengerti, jadi dia tidak mengatakan apapun. Dia hanya tersenyum seperti biasanya. Jika dia memang benar-benar hebat, dia akan menunjukkannya. Jika tidak, maka itu hanya akan lebih menyakitkan bagi Ruth.
Ruth ingin Oscar melawan balik perkataannya, mengatakan bahwa itu tidak benar. Sebaliknya, Oscar malah tersenyum dan membuat Ruth semakin kesal. Ruth berdiri, tidak tahan lagi untuk tetap di dalam ruang makan.
“Itu tidak benar!”  Suara yang ceria itu menghentikannya.
“Kau juga berpikir O-kun luar biasa, bukankah begitu, Ruth-kun? Aku bisa mengetahuinya.”
“T-Tidak, aku tidak berpikiran seperti itu!”
“Yep, kamu berpikir seperti itu. Mata spesialku dapat melihat semuanya! Aku tahu persis apa yang kamu rasakan. Kau sebenarnya berpikir O-kun itu hebat, aku tahu!” ucap Miledi dengan puas.
Semuanya menatap Miledi dengan terkejut, termasuk Oscar juga. Nada suaranya ceria seperti biasanya, tetapi kata-katanya memiliki makna yang aneh bagi mereka.
“Inilah sebabnya aku ingin menemuimu O-kun. Aku menghabiskan banyak waktu untuk mencari seseorang sepertimu.” ia berbalik melihat Oscar dengan tatapan tajam.
Ia berbicara lagi, suaranya seakan berbisik...
“Akhirnya aku menemukanmu.” Ia menutup matanya dan tersenyum.
Ia tampak sangat senang bisa bertemu dengannya.
Oscar merasakan jantungnya berdetak dengan kencang.
Apa yang dia ketahui tentangku?
Ya, jantungnya pasti berdetak dengan kencang karena ia cemas tentang seberapa banyak yang Miledi ketahui tentang dirinya. Jelas bukan karena alasan lain. Setidaknya, itulah yang terus dikatakan Oscar pada dirinya sendiri. Dia membetulkan kacamatanya untuk menyembunyikan ekspresinya.
Sial baginya, Mata Miledi dapat melihat semuanya.
“Ya ampun, apakah mataku menipu diriku sendiri? O-kun, apakah jantungmu baru saja berdegup dengan kencang? Apakah senyumku begitu menawan? Betul ‘kan? Ayolah, katakan saja”
“Diamlah, kau menyebalkan.” Setidaknya, itulah yang benar-benar ia rasakan.
Percakapan Miledi dan Oscar telah menghilangkan suasana tegang yang telah mengisi ruangan makan dan semua orang kembali duduk dan memakan makanan mereka.
Bahkan Ruth kembali duduk dan menatap piringnya dengan cemberut.
Namun, ucapan Miledi masih berputar-putar di benak Oscar.
Ia tidak tahu alasan mengapa Miledi datang kepadanya, tetapi dia bisa menebak bahwa hal tersebut sangat penting baginya.
Her declaration had almost sounded like a profession of love. Corrin and Katy certainly seemed to think that was what it had been, at least. They kept on looking back and forth between Miledi and Oscar.
Pernyataannya hampir terdengar seperti pengakuan cinta. Corrin dan Katy tampaknya berpikir bahwa itulah sebenarnya yang terjadi, paling tidak. Mereka terus melihat Oscar dan Miledi.
“Ehem…Miledi-san, karena semua orang telah selesai makan, sepertinya sudah saatnya kau memberi tahu kami alasan kedatanganmu.”
“Ayolah, jangan terlalu serius. Kita ini teman, bukan, O-kun? Kau tidak perlu bersikap dingin!”
“Apa maksudmu dengan teman? Aku baru saja bertemu denganmu hari ini, yang lebih penting lagi, kenapa...“
“Aku tidak akan bilang! Tidak, kecuali kamu memanggilku Miledi-tan, dan ucapkan dengan penuh perasaan, oke?”
“H-Haha… Kau adalah orang yang menarik. Baiklah, cukup dengan bercandanya...” kesabaran Oscar sudah habis. Sayangnya, Miledi tampak tidak peduli.
“Tunggu, jangan-jangan alasan kenapa kau bersikap dingin padaku karena… kau sudah mempunyai seseorang di hatimu!?”
 “Apa!?”
“Ternyata begitu… aku mengerti sekarang. Kecerdasan luar biasaku telah menyimpulkan sebuah kebenaran. Aku harusnya telah mengira O-kun ingin menjadikan Corrin-chan dan Katy-chan menjadi istrinya!”
“Jika kau tidak diam, aku akan menjahit mulutmu yang bawel itu.” tidak dapat menahan dirinya lagi, Oscar mengancam Miledi. Di saat yang bersamaan, Corrin dan Katy terperangah
Ia berbalik dan melihat Corrin yang tersipu malu. Katy, di sisi lain, tidak berani menatap Oscar.
Onii-chan, apa kau benar-benar ingin menikahiku?”
“Y-Yah, aku tidak mau menikah dengannya! T-Tapi jika Onii memaksa…”
They’d taken Miledi’s words seriously. Meanwhile, his brothers looked at him in disgust.
Mereka menganggap kata-kata Miledi terlalu serius, sementara adik-adiknya menatap dengan jijik.
Onii-san, aku menghargaimu, tetapi ini terlalu…”
“Cih… Aku seharusnya tahu kalau pecundang ini ternyata mesum.
Mereka juga menganggap kata-kata Miledi dengan serius. Dylan dan Ruth mulai menjauh darinya.
Kemudian, Miledi memberikan pukulan terakhir.
“Aduh, O-kun… kamu benar-benar nakal!”
Oscar membetulkan kacamatanya lagi, kehilangan kendali atas amarahnya.
“Cukup. Ikut denganku, perempuan kurang ajar!”
Oscar mencengkeram kerah baju Miledi dan menyeretnya keluar.
Cahaya bulan yang pucat, bersinar melalui celah-celah di awan. Oscar dan Miledi saling menatap di halaman belakang panti asuhan. Di bawah bulan berukuran setengah yang indah, pasti akan menjadi bagian yang penting dari ingatan pertemuan pertama mereka…
Walaupun Oscar telah mengusirnya keluar dari pintu, ia tampaknya tidak terikat dengan gravitasi dan dengan ringan mendarat di tanah dengan kakinya.
“O-kun, kau monster! Aku tidak percaya kau melempar seseorang keluar dari rumahmu seperti itu! Kau bukanlah manusia!”
“Sementara kau adalah gadis yang baru saja mengabaikan gravitasi.”
Oscar menghela napas. Ia tahu jika membiarkan dirinya mengikuti arah pembicaraan gadis ini, percakapan mereka tidak akan pernah selesai. OScar menatap tajam pada Miledi, menampilkan ekspresi muram yang tidak pernah ditunjukkan kepada anak-anak.
“Jadi, apa yang benar-benar kau inginkan dariku? Aku telah bermain dengan permainan bodohmu. Sudah waktunya kau memberitahuku.”
Ketika mereka sedang makan, Oscar khawatir jika dia mencoba untuk menjadikan anak-anak sebagai sandera.
Moorin dan anak-anak telah menyukainya, yang artinya dia mungkin bukanlah seseorang yang jahat.
Bagaimanapun, dia telah mengetahui sesuatu yang seharusnya tidak ia ketahui. Miledi mengaku datang untuk Oscar, tetapi alih-alih pergi ke rumahnya, ia malah datang ke panti asuhan.
Sengaja atau tidak, pada intinya dia berkata “Aku bisa pergi ke tempat keluargamu kapan saja aku mau.”
Itulah mengapa Oscar mengubah taktiknya.
Jika anak-anak telah salah tentangnya dan dia ingin menyakiti mereka, maka Oscar akan melenyapkannya tanpa berpikir dua kali.
“Jangan menatapku seperti itu. Apakah tidak ada yang mengajarimu untuk memperlakukan gadis dengan baik?”
“…..” Oscar hanya menatap lebih keras. Dia tidak terlihat seperti pecundang yang semua orang pikirkan.
“Ahaha, kurasa aku mungkin harus serius juga, ya? Bagaimanapun, maaf soal itu. Aku tidak bermaksud untuk membuat kesalahpahaman. Dengar, aku berjanji untuk tidak menyakiti keluargamu. Aku sungguh-sungguh. Aku tidak berbohong.”
Oscar kesulitan untuk mempercayainya, tetapi dia tetap mengangguk.
“Alasan kenapa aku datang untuk menemui keluargamu lebih dulu karena aku ingin mengenalmu lebih banyak, O-kun. Aku juga berkeliling dan bertanya kepada penduduk kota tentangmu.”
“Jadi, kamu tidak tahu tentang tempat ini sebelumnya?”
“Aku datang kesini karena kebetulan, sungguh. Aku diberitahu bahwa terdapat seorang yatim piatu yang jenius di suatu tempat. Aku mengunjungi begitu banyak negara yang berbeda, memeriksa semua panti asuhan yang bisa kutemukan. Aku sedang mencari seorang jenius. Meski aku memikirkannya, tidak ada jaminan bahwa seorang anak yatim piatu bisa menjadi orang yang jenius.”
Oscar mengangguk paham.
Bahkan ketika dia bercanda, sikap Miledi telah berubah. Ia menduga bahwa Miledi tumbuh di lingkungan keluarga bangsawan, atau sebagai pelayan dari suatu keluarga bangsawan. Kisahnya semakin memperkuat asumsi itu. Sudah menjadi suatu kebiasaan di kalangan bangsawan untuk mencari individu-individu yang sangat berbakat dan membawanya ke keluarga mereka.
Miledi berbalik dan melihat ke atas bulan. Setelah beberapa detik, ia melirik kembali ke Oscar di atas bahunya.
“Setelah aku berbicara kepada anak-anak, aku mengetahui kemampuanmu.”
Oscar menyipitkan matanya. Ada kilatan yang berbahaya dalam tatapannya.
“Kemampuanku? Aku hanyalah seorang sinergis yang hanya bisa membuat perlengkapan rumah tangga.”
“Ahaha, kau benar-benar lucu, O-kun. Tidak mungkin ada sinergis gagal yang bisa membuat benda-benda ajaib seperti milikmu. Bahkan, itu terlalu bagus sehingga kau mungkin bisa menyebutnya sebagai artefak.”
Mata Oscar terbuka lebar karena terkejut. Oscar mengira Miledi mendengar desas-desus tentang bagaimana ia menjadi anak ajaib atau bahwa diam-diam menyembunyikan bakatnya, dan itulah sebabnya Miledi berpikir ia terampil.
Aku tidak mengira dia tahu fakta tentang alarm yang dipasang di rumah ini…
Oscar memandangnya dengan waspada.
“Seriously, quit glaring at me like that! I’m standing here even knowing what it can do, so can’t you trust me a little?”
“Sungguh, berhentilah menatapku seperti itu! Aku berdiri disini dengan mengetahui fakta bahwa apa yang bisa dilakukan benda itu, jadi bisakah kau percaya denganku walaupun sedikit saja?”
“Ya…”
Jebakan yang Oscar pasang di sekitar panti asuhan sangat mematikan. Singkatnya, ia dapat menimbun korbannya dalam hujan petir, angin, es, dan api.
Selanjutnya, setelah mengusir para penyusup itu, jebakan akan mengerahkan penghalang lima lapis dan mulai mengeluarkan suara alarm yang keras.
Jika penyusupnya berhasil melewati penghalang, jebakannya akan keluar kembali. Selain itu, semua pintu masuk ke panti asuhan telah diperkuat dengan bahan terkuat yang dapat ditemukan Oscar.
Sekilas, bangunan itu tampak kumuh, tetapi Oscar telah mengubah panti asuhan menjadi benteng dengan dinding yang lebih keras dari baja.
Tindakan apapun yang mencoba menghancurkan dindingnya akan menghasilkan serangan balik berupa petir. Oscar telah mengubah mereka semua menjadi armor kuat yang reaktif.
Ini adalah tingkat nyata dari kemampuan Oscar yang sebenarnya. Selain seorang Sinergis yang jenius, ia juga mampu menanamkan sihir ke dalam bijih. Intinya, ia menciptakan artifak.
Ia bisa menggunakan sihir dari zaman para dewa. Menurut legenda, Sihir ini telah digunakan ketika mereka masih berjalan di bumi. Saat ini, hanya orang Atavists yang  bisa menggunakan sihir seperti itu, yang telah mewarisi darah para dewa.
Ada suatu alasan kenapa ia memberitahu Karg bahwa kekuatannya tidak normal. Alasannya adalah, ia dapat mengontrol mana-nya dengan bebas, dan tidak perlu membuat lingkaran sihir atau mengucapkan mantra untuk menggunakan sihir. Hal-hal yang perlu dikuasai dalam bertahun-tahun oleh pengrajin ahli hanyalah mainan anak-anak bagi Oscar.
“Sejujurnya, panti asuhan ini bahkan lebih bagus pertahanannya daripada istana kerajaan. Tidak ada Sinergis sembarangan yang bisa membuat mekanisme pertahanan kelas artefak seperti ini.” bagaimanapun, Miledi telah melihat semua hal itu. Oscar benar-benar tidak bisa membiarkan kewaspadaannya turun saat berada di sekitarnya. Ada lebih banyak sikapnya yang benar-benar patut dipuji daripada sikapnya yang sembrono.
“Jika kau pikir aku tidak dapat dipercaya, kenapa tidak mengaktifkan bentengmu dan mengeluarkanku dari sini? Akan tetapi, walaupun kamu melakukannya, aku tidak akan pergi sebelum kau mendengarkan perkataanku.”
Ah, sekarang aku mengerti.
Oscar kelihatannya telah sadar.
Miledi sepertinya tidak memiliki motif tersembunyi yang jahat. Dia telah menemukan tempat ini dengan kebetulan. Bagaimanapun, dia takjub akan hebatnya pertahanan panti asuhan ini, jadi dia menanyakan orang-orang yang hidup disekitar sini. Setelah Miledi mengetahui tentang Oscar, ia memutuskan untuk menunggunya sampai datang.
Di sini, tempat Oscar memiliki akses senjata yang paling kuat.
Miledi akan membiarkan Oscar menyeretnya ke halamang bekalang jika mau, tetapi ia tidak,  yang berarti Oscar telah mengampuninya.
“Kalau begitu, mengapa kau tidak bersikap serius saja? Sikap bodohmu itu membuat dirimu sulit untuk dipercaya.” kata Oscar dengan sedikit santai. Ia menurunkan kewaspadaannya dan berhenti melototi.
Facebook twitter Google+

Related Post

Berlangganan update artikel terbaru via email:

2 Komentar

  1. Kunjungi juga web saya min: https://www.animangakun.blogspot.com btw, min mau gak backlinks dengan web saya. Web bahas anime tapi masih baru. Views cuma 600 😅

    BalasHapus
  2. Bicarakan saja di FP kami kak

    BalasHapus