Bab 1 - Pertemuan yang Memulai Itu Semua | Bagian D



======================
Penerjemah & Editor : DarkSoul 
======================

“Kenapa kau tidak bertindak serius saja? Sikap bodoh membuatmu sulit dipercaya.” Oscar agak menyantai. Membiarkan pundaknya tenang dan berhenti melotot.
“Aku tidak paham kau membicarakan apa~aku cuma gadis biasa, ceria, bahagia, dan cantik~” mengedipkan mata pada Oscar lagi, memperagakan pose klise serupa seperti kali terakhir. Oscar sebal.
Sungguh mengherankan siapa pun dapat menggabungkan kecerobohan dan kesungguhan sepertinya. Seolah-olah Oscar menarik perhatian seorang wanita yang teramat aneh. Berurusan dengannya saja membuat laki-laki itu sakit kepala.
“Oke, jadi kau ingin ngomongin apa? Aku tebak yah, ingin aku buatkan artifact.”
“Tidak, salah banget~terserah kau jika ingin membuat sesuatu untukku. Tunggu, jangan bilang kau sering disuruh-suruh wanita? Maaf, aku bukan perempuan semacam itu ….”
“Thunder Snake.”
“Ababababababaabab!?”  Miledi terkejut ketika Oscar memukulnya dengan serangan anti-penyusup panti asuhan. Oscar memanggil aliran listrik semacam ular dari bawah tanah dan melilit Miledi.
Ketika listrinya memudar, Miledi roboh ke tanah.
Oscar menyesuaikan kacamatanya, kemudian menatapnya lekat-lekat.
“Aku bukan orang mesum!” teriaknya.
“P=pertama-tama, kau menyerangku, sekarang berteriak …. Aku pun tidak menyangka kau begitu ….”
Gemetaran, Miledi bangkit. Gumpalan asap mengepul dari pakaiannya.
“Bisakah kau mengatakan dua kalimat serius?”
“Aku ahlinya tidak serius, tidak bisa berhenti saja. Tidak bisa apa terima diriku apa adanya, O-kun?”
Oscar menatap diam cewek itu. Setelah beberapa detik emrajuk, dia menegakkan tubuh dan sikapnya serius. Jantung Oscar lagi-lagi berhenti berdetak, dalam hati mengutuk dirinya sendiri.
“Aku hanya punya satu tujuan. Oscar-kun, aku ingin kau.”
“Kau … ingin aku? Maksudmu?”
Tidak mungkin dia memikirkan apa yang aku pikirkan, benar?
Miledi kembali memandang bulan.
“Pernahkah kau berpikir … ada sesuatu yang salah pada dunia ini?”
“Ah ….” Oscar terdiam. Tidak bisa meramu balasan.
“Yah, O-kun? Kau seorang Synergist yang tingkatannya berbeda dari Synergist lainnya. Jika kekuatanmu ditunjukkan ke khalayak dunia, barangkali kau akan menjadi orang paling terkenal. Malahan, kau bisa saja diingat oleh sejarah sebagai seorang pahlawan. Namun masih menyembunyikannya. Apa sih yang kau takutkan?”
Bukannya udah jelas? Seandainya aku memamerkan kekuatanku, semua orang-orang bertahta di dunia ini akan memperebutkanku.
Tentu saja, dia akan tenar dan mulia. Bahkan pun namanya akan terkenang sepanjang masa. Tetapi dia tidak lagi bebas. Dan paling pentingnya—
“Apakah kau takut pada Teokrasi Elbard dan gereja yang mendukung mereka?”
“Seharusnya aku tahu kau sudah tahu. Lagian kau tahu kemampuanku.” Oscar tersenyum kecut.
Ya, Oscar takut tidak bisa bebas lagi. Hal terpentingnya, dia takut pada gereja.
Gereja Suci Ehit …. Mereka mengikuti doktrin yang menyatakan manusia adalah spesies tertinggi, berkhotbah bahwasanya manusialah yang mesti berkuasa. Hampir semua manusia di benua jadi pengikut mereka.
Mereka-mereka yang diketahui memiliki kekuatan sihir dari zaman para dewa, atau sihir spesial yang khusus digunakan para monster, dianggap sebagai keturunan dewa dan berada di bawah perlindungan gereja.
Secara paksa jika perlu. Oscar akan mengalamai nasib serupa bilamana mengungkap bakatnya.
Gereja Suci yang kekuatannya setara dengan satu kerajaan penuh. Faktanya, pemimpin Teokrasi Elbard adalah Paus Gereja Suci. Sendirian, Oscar takkan pernah mampu melepaskan diri dari genggaman mereka. Meskipun dia bisa, entah bagiamana takdir keluarganya.
Miledi tersenyum akrab pada Oscar.
“Melarikan diri dari Gereja Suci tidak akan mudah. Ke mana pun kau pergi, mereka ada di sekitar kita. Di setiap kerajaan, setiap desa, jejak-jejak mereka kasat mata.” ucap Miledi.
“Tentu saja kau takut. Maksudku, pikirkan saja. Mereka semata-mata mengendalikan satu negeri. Tapi lihatlah, kemana pun kau pergi, ada kuil di mana-mana. Semua negeri mereka jelajahi, bahkan ikut campur adlam kebijakan nasional.”
“H-hei, jangan keras-keras ngomongnya—” Oscar dengan gugup meneliti keadaan sekelilingnya.
Menghina Gereja Suci sama saja bunuh diri. Semisal seseorang mendengar perkataan Miledi, dia akan langsung dieksekusi.
Namun Miledi tidak berhenti.
“Bahkan ketika terjadi peperangan antar negeri, andai kata Gereja Suci mengatakan sesuatu, mereka seketika berhenti. Tatkala masa-masa damai, sepatah kata dari mereka saja bisa menjadi peperangan. Kita terlampau khawatir untuk dicap sebagai kafir jika ingin melakukan hal benar, atau bahkan hal-hal legal. Kita diajarkan bahwa kehendak Ehit adalah teragung dan hal-hal seperti cinta serta keadilan bisa dikesampingkan. Malahan tidak berarti sama sekali.”
“M-Miledi … kun ….”
Miledi balik menatap Oscar, mata biru jernihnya melotot langsung. Ada kejernihan di dalamnya, menampakkan tekad tak tergoyahkan. Oscar tanpa sadar menelan ludah.
Memelototinya beberapa detik, lalu tersenyum.
“O-kun. Kau pastinya menyadari betapa menyimpangnya dunia ini. Lebih dari raja-raja dunia, kau takut pada Gereja Suci saleh itu. Karenanya kau bersembunyi. Agar mereka tidak melukai keluargamu untuk mendapatkanmu.”
Biasanya ketika seseorang menghina Gereja Suci mereka langsung dikecam sebagai orang kafir. Alasannya adalah bila tidak kau anggap kafir, kau juga akan dianggap kafir. Kecuali kau sangat mengenal si penghujat, kau juga bisa mengubah mereka.
Namun Oscar tidak memanggil Miledi kafir. Cowok itu masih gemetaran, tapi masih tidak menghentikan Miledi. Sebab dia mengatakan hal-hal yang senantiasa dipikirkan Oscar, tetapi tidak kuasa untuk mengutarakannya.
Miledi sangat senang karena akhirnya bertemu seseorang yang tidak mabuk agama Ehit. Terdorong oleh kesunyian Oscar, dia melanjutkan.
“Aku anggota organisasi tertentu.” kata Miledi.
“Organisasi?”
“Ya. Dunia di mana orang-orang hidup dalam ikatan hukum, juga moral mereka sendiri. Dunia yang tertib lagi adil. Dunia di mana setiap orang bebas berbicara untuk menentang ketidakadilan. Tempat orang berkumpul untuk membahas hal-hal benar. Perbedaan opini dan ide dihargai alih-alih ditekan. Dunia orang-orang bisa bebas. Itulah tujuan organisasi kami.”
“Kau punya rencana membuat agama baru, ya?” Oscar baru saja berhasil mengalihkan pandangannya dari keragu-raguan. Mengucapkan selamat kepada dirinya sendiri karena bisa tenang dan membalas canda perkataan Miledi.
Namun, kata-kata cewek itu membuatnya terperangah. Idealisme organisasi Miledi pada dasarnya adalah pemberontak. Sekumpulan orang-orang kafir yang berniat menghancurkan aturan Gereja Suci.
“Kau kira kami ini sekelompok teroris atau semacamnya …. Ahaha, yah, kurasa kau tidak salah-salah amat.”
“Pergi sana.” Respon Oscar terhadap komentar ringan Miledi.
“Maaf, tapi jawabanku adalah tidak. Aku berjanji tidak akan memberitahu satu jiwa pun, tolong jangan dekati aku atau keluargaku lagi.”
Ujar lirih Oscar, tapi ekspresinya mati serius.
Miledi tetap menatap Oscar selama beberapa detik dan menjawab lirih juga.
“Begitu ….” dia balik badan dan berjalan menjauh. Sosoknya yang kian samar kelihatan kecil bagi Oscar.
Sulit membayangkan seorang gadis kecil sepertinya bertarung melawan dunia. Apa motifnya sampai-sampai berani mempertaruhkan nyawanya begitu? Mungkin dia hanya gila … lebih mudah bagi Oscar jikalau itu masalahnya.
Dirinya teryakini ucapan Miledi tidak cukup menyentuhnya. “Oh ya, bisa beritahu semua orang makanannya enak?” “Oke.”
Miledi melirik ke belakang dan tersenyum pada Oscar. Lalu, tanpa berkata apa-apa lagi, dia menghilang ditelan kegelapan malam.
Seakan-akan keberadaannya cuma roh.
Oscar menguatkan giginya, menahan diri utnuk tidak mengatkaan sesuatu.
Merkea takkan pernah bertemu lagi. Demi kebaikan kami berdua, ujar si laki-laki dalam hati.
Keesokan harinya ….
Miledi muncul di tempat kerja Oscar.
“Halo, para penduduk budiman Bengkel Orcus! Akulah idola paling terkenal di seluruh dunia, Miledi! Di mana O-kun manis kecilku?”
Sejumlah penempa berwajah gagah kebingungan pada gadis yang baru saja muncul di pintu belakang. Tampaknya dia tidak mengindahkan sopan santun karena ujuk-ujuk berjalan melewati para penempa seraya bilang, “Permisi.”
“Waw, salah satu dari tiga bengkel terbesar Velka memang hebat. Negeri ini sungguh terkenal akan teknologinya. Banyak penempa di mana-mana~” seru Miledi sambil melihat-lihat bengkel.
Di bagian belakang tempat itu, Oscar mendungu. Dia menduga takkan pernah melihat Miledi lagi. Tidak ingin sosoknya kelihatan, dia buru-buru bersembunyi.
Berutungnya banyak pesanan hari ini sehingga dia bisa bersembunyi di balik tumpukan pekerjaannya yang telah selesai.
D-d-dia ngapain di sini!? Menyesuaikan kacamatanya berulang-uang.
Para penempa saling bertatap mata, bertanya-tanya siapakah gadis ini.
Walaupun si gadis menyeringai kek orang goblok, pakaian mahal menandainya sebagia seorang bangsawan, sekurang-kurangnya orang kaya. Biasanya, siapa pun yang merengsek masuk ke bengkel akan disuri, tetapi Miledi begitu terang-terangan, membuat para penempa bimbang.
Apa lagi karena andaikan dia putri bangsawan, mereka tidak boleh bersikap kasar padanya.
Tepat saat seseorang menghampiri kepala penempa, seorang pria muda melangkah maju. Meskipun dia sendiri seorang bangsawan, mengayunkan tangannya seperti pedagang. Ping tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk menjalin suatu koneksi penting. Dia tersenyum sesanjung mungkin.
“Nona, apa yang Anda perlukan? Mungkin saya bisa membantu. Ah, maaf tidak memperkenalkan diri lebih awal. Saya adlaah Ping Waress, putra Viscount Waress.”
“… Hai! Aku Miledi.” Miledi mengamati Ping dengan cermat selama beberapa saat, tapi tersenyum lagi dan balik memperkenalkan diri.
Para penonton sudah tahu senyum tersebut palsu, namun ….

End Of The Part

Facebook twitter Google+

Related Post

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Komentar