Bab 1 - Pertemuan yang Memulai Itu Semua | Bagian B

Font Size :
Dark Mode
Reset Mode

=======================
Penerjemah : Lemon
Editor : Arkais
=======================

Apa yang kau lakukan Oscar?” saat mereka memasuki kantor Karg, ia mulai membentak Oscar.

Karg menghempaskan dirinya ke atas sofa kuno di dalam kamarnya. Pegasnya mulai berderit di bawah tubuhnya yang besar.

“Saya tidak mengerti maksud Anda Pak...”

Hanya kita berdua yang ada di sini, jadi berhentilah bersikap baik. Hilangkan juga senyum bodohmu, itu menjijikan.”

Itu kasar sekali, Pak Tua. Oscar membuang sikap baiknya, tetapi ia tidak berhenti tersenyum.

Ia sudah biasa menggunakannya untuk keluar dari situasi yang tidak menyenangkan, sehingga membuatnya susah untuk berekspresi.

Aku ingat kau pernah bilang hanya akan membuat masalah jika tetap tinggal di workshop. Aku juga ingat dengan jelas untuk memberitahumu agar tetap tinggal. Aku tidak bekerja susah payah hanya untuk membuatmu tetap tinggal, sehingga kau bisa menghabiskan waktumu melakukan apa yang dikerjakan putra idiot Viscount itu untuknya.”

Aku tahu, tetapi aku bisa menyelesaikannya ketika istirahat. Jika hanya itu yang diperlukan untuk membuat Waress-san diam, maka aku tidak keberatan menjadi pesuruhnya.”

“Bodoh. Orang-orang sepertinya tidak akan pernah puas. Jika kau menyerah pada mereka sekali saja, mereka akan datang lagi. Kalau ia menyebabkan banyak masalah untukmu, aku bisa membuatnya keluar dari sini.”

Ping, Torpa, dan Raul telah masuk ke Workshop Orcus karena relasi yang dimiliki oleh keluarga Ping. Meskipun mereka bertiga adalah Sinergis, mereka sama sekali tidak memenuhi syarat untuk menjadi bagian dari Workshop Orcus yang terpandang. Awalnya Karg membiarkan mereka bergabung karena tidak ingin membuat masalah hanya karena menghina sekelompok bangsawan kecil, tapi…

Aku akan mengatakannya, tidak peduli berapa kali pun. Oscar, kau akan menjadi penerus Orcus selanjutnya, jadi...”
“Kek...” suara Oscar pelan namun tegas.

Karg menghela napas, sadar bahwa Oscar masih belum berubah pikiran. Mewarisi nama Orcus berarti menjadi pemimpin Workshop Orcus selanjutnya.

Sudah menjadi tradisi bagi para Orcus untuk menurunkan gelarnya setelah menemukan seseorang yang telah melampaui kemampuan mereka.

Fakta bahwa Karg ingin menurunkan gelar Orcus kepada Oscar, berarti ia mengakui bahwa Oscar adalah seorang Sinergis yang lebih terampil darinya.

“Kau sudah menjadi seorang pengrajin yang lebih hebat dariku. Gila, kau sudah berada jauh di depanku sejak beberapa tahun yang lalu. Kemampuanmu berada pada tingkat yang berbeda.”

......Oscar tidak yakin untuk membalas ucapannya. Bagaimanapun juga, semua yang dikatakan Karg benar.

Saat aku pertama kali bertemu denganmu di panti asuhan Moorin, aku tahu kau istimewa. Mainan yang kau buat untuk anak-anak lain jauh lebih hebat daripada beberapa karya terbaikku yang ditampilkan oleh Workshop-ku... Sejujurnya, pada awalnya aku tidak percaya.”

Oscar dibuang di depan panti asuhan Moorin saat ia masih bayi. Walaupun tidak ada perang skala besar yang terjadi beberapa dekade lalu, perang di perbatasan kecil hampir terjadi setiap hari. Ketidakstabilan politik di kerajaan manusia semakin memperburuk permasalahan. Pertempuran yang terus-menerus terjadi membuat wilayah tersebut penuh dengan anak yatim piatu, dan banyak panti asuhan baru yang muncul untuk merawat mereka.

Negara sudah mencapai titik batas dan tidak mampu untuk mendanai mereka semua. Karg sudah menjadi pemimpin Workshop Orcus saat panti asuhan mulai bermunculan. Ia adalah teman Moorin dan ketika mendengar panti asuhannya sedang bersusah payah untuk berjuang, ia memutuskan untuk membantu panti asuhan tersebut.

Hari ketika ia bertemu oscar sama seperti hari lainnya. Ia pergi untuk mengantarkan sejumlah uang ke panti asuhan dan melihat keadaan Moorin beserta anak-anaknya.

Ketika ia melihat keadaan sekitar panti asuhan, ia menemukan lebih banyak mainan daripada terakhir kali ia berkunjung.

Ia bertanya kepada Moorin apakah ia mendapat bantuan dari tempat lain, dan mendapatkan jawaban yang tidak terduga darinya.

Oscar –anak yang baru saja menginjak usia 10 tahun saat itu– adalah orang yang membuat semua mainan tersebut.

Karg mengira bahwa Moorin telah mendapatkan bantuan dari orang yang kaya, jadi ia terkejut mengetahui orang yang membuat mainan-mainan itu ternyata seorang bocah.

Balok-balok penyusun bangunan tampak saling terpasang dengan rapi. Boneka-boneka dibuat dengan sangat teliti, sehingga Karg mengira mereka anak-anak manusia sungguhan.

Pedang mainan diciptakan dengan sempurna, bahkan piring palsu yang dibuatnya untuk para gadis bermain rumah-rumahan sudah cukup baik untuk dipakai memasak.

Semua karya seni itu diciptakan oleh bocah berusia 10 tahun. Karg tidak bisa mempercayainya. Ia membawa Oscar dan memintanya untuk melakukan demonstrasi secara langsung. Ketika Oscar selesai membuat salah satu mainan tepat di depannya, Karg tidak punya pilihan lain selain menerima kenyataan. Sejak usia 10 tahun, keterampilannya sudah setara dengan Sinergis terbaik di negeri ini.

Saat Karg menanyakan di mana Oscar mempelajari keterampilannya, inilah jawabannya.

Ketika aku melihatmu memperbaiki pot itu terakhir kali kau datang, aku berpikir bisa melakukannya juga, jadi aku mencobanya.”

Karg mengingat kejadian itu. Ia datang sebulan sebelumnya untuk memperbaiki pot yang rusak. Setelah diingat lagi, Oscar memang mengamatinya dengan penuh semangat.

Karg mematung. Ia merasakan hawa dingin yang mendadak, seolah-olah seseorang baru saja menyelipkan es batu ke punggungnya.

Setelah menyaksikannya bekerja sekali, ia menguasai dengan sendirinya? Hanya dalam satu bulan? Ia telah mencapai tingkat Craftsman Master tanpa melalui percobaan dan kegagalan? Jika itu benar, maka seberapa jauh dia bisa melakukannya dengan instruksi yang tepat? Karg sangat gembira sekaligus ketakutan pada kemungkinan yang akan terjadi.

Ia memutuskan saat itu juga akan menjadikan Oscar sebagai pemimpin Orcus selanjutnya. Setelah Karg mengajari Oscar secara pribadi, Karg menerimanya menjadi bagian dari Workshop Orcus.

Sudah lama semenjak kau pertama kali bergabung dengan Workshop Orcus. Seharusnya kau sudah meneruskan gelar Orcus beberapa tahun yang lalu. Akan tetapi, apa kau tahu, Oscar? Aku tidak ingin memaksamu. Aku pernah menghentikanmu dulu saat kau ingin berhenti melakukan pekerjaan Sinergis, tapi jika kau masih berpikir ini tidak cocok denganmu, kau boleh pergi. Percaya atau tidak, Aku tidak mau membuatmu menderita.”

“Aku... sangat berterima kasih padamu, Kek. Aku tahu pengrajin yang lain tidak suka padaku, tetapi tidak ada yang bisa kulakukan. Aku sudah menerimanya dan bekerja disini tidak seburuk itu, kok.”

“Tetap saja...”

Karg tersenyum kecil, tetapi Oscar terus berbicara.

“Aku senang menjadi Sinergis. Aku bisa membantu semua orang di kota dengan pekerjaanku, dan aku juga bisa mengirim uang ke panti asuhan. Apa lagi yang bisa ku minta?”

“Mengapa kau menyembunyikan betapa hebatnya dirimu Oscar? Jika mereka tahu, mereka pasti setuju. Bahkan gelar Orcus tidak sebanding dengan kemampuanmu. Apakah kau tidak suka membuat senjata? Atau, kau berpikir tidak cocok untuk menjadi seorang pemimpin? Mungkin saja keduanya, namun kau tahu, Oscar? Jangan meremehkanku. Aku bisa tahu bahwa terdapat alasan lain mengapa kau tidak mau mengambil gelar itu. Apa kau pikir aku tidak akan menyadarinya?”

“…..” Oscar hanya tersenyum seperti biasanya. Senyuman yang mengatakan
“Aku tidak akan membantah itu semua, jadi katakan saja apa yang kau inginkan.”

“Aku tahu mungkin ini agak lancang, tapi… aku menganggapmu sebagai putraku sendiri. Aku hanya ingin kau menjadi dirimu sendiri dan menunjukkan  kepada semua orang siapa kau sebenarnya. Akan tetapi, sepertinya bukan itu yang kau inginkan bukan?”

Oscar sudah lama mengenal Karg, jadi dia mengerti bagaimana perasaan Karg. Oscar tidak pernah jujur kepadanya, tetapi dia mulai memanggil Karg dengan Kakek daripada Karg-san, karena dia menganggap Karg sebagai ayahnya juga. Sejujurnya, Oscar senang bahwa Karg menaruh ekspektasi yang besar kepadanya. Hal tersebut menyakitinya karena ia tidak bisa memberi tahu alasan yang sebenarnya kenapa ia menyembunyikan kemampuannya. Akan tetapi, walaupun begitu...”

“Kek… Kau berkata bahwa kemampuanku berada di tingkat yang sangat berbeda, tapi itu tidak benar.”

“Tak perlu bersikap merendah denganku. Aku tahu betapa hebatnya dirimu…”

“Mereka bukan berada pada yang tingkat berbeda…. Mereka sama sekali tidak normal.”

“….” Karg terdiam. Kata-kata Oscar telah memberikan Karg petunjuk mengapa Oscar menyembunyikan kemampuannya yang sesungguhnya.”


“Ia tidak pernah melihat Oscar seperti ini sebelumnya. Ia menampilkan ekspresi yang murung dan melihat kejauhan. Seolah-olah ia menatap masa depan yang menunggunya jika ia mengungkapkan kemampuannya.

“Karg sebenarnya tahu, itu tidak akan seindah yang dibayangkan. Ia tidak tahu harus berkata apa, tetapi ia harus melakukan sesuatu. Akan tetapi, sebelum Karg melakukannya, Oscar melanjutkan perkataannya.”

“Bagaimanapun juga, aku menikmati pekerjaan yang sedang kulakukan saat ini. Jangan pura-pura tidak tahu, semua peralatan dan perabotan yang kuciptakan diterima dengan baik oleh penduduk kota. Di satu sisi, aku masih membantu Workshop Orcus meningkatkan reputasinya.”

Oscar berbicara dengan gembira, berusaha menghilangkan kesuraman yang menyelimuti ruangan itu. Karg sadar jika hanya sejauh ini yang bisa ia dapatkan dari percakapan hari ini dan mengangguk sambil menghela nafas.”

“Haaah… Kau benar. Baik Workshop Limster maupun Workshop Vagone bahkan kerepotan membuat barang untuk rakyat biasa. Walaupun kerja keras merekalah yang membuat kita dapat fokus pada pekerjaan kita. Mereka adalah orang-orang yang menyediakan bijih besi yang kita gunakan untuk membeli makanan.”

Workshop yang dinamai Karg adalah dua Workshop besar lainnya di Velnika. Keduanya hanya menerima pesanan dari bangsawan, keluarga raja, dan pedagang yang kaya.

Karena itulah mereka lebih fokus ke sana, tidak ada yang bisa menyalahkan mereka juga. Tetap saja, itu tidak berarti warga kota menyukainya. Bahkan, sebagian besar dari mereka cukup marah dengan Workshop lain. Selagi semua orang saling membantu sesama, mereka hanya mencari keuntungan.

Di sisi lain, Workshop Orcus tidak memiliki larangan kepada siapapun yang bisa memesan. Pada prinsipnya, mereka dipaksa untuk memprioritaskan permintaan para bangsawan, tetapi jika ada pengrajin yang sedang luang, mereka mendapat pesanan dari warga biasa. Selain itu, Orcus saat ini mulai menyumbangkan uang mereka yang lebih ke berbagai panti asuhan.

Akan tetapi, hal yang lebih penting adalah Workshop tersebut sekarang memiliki pengrajin yang tugas utamanya untuk menangani permintaan para rakyat. Oleh karena itu, Workshop Orcus sangat dihormati di kalangan rakyat jelata.

Pengrajin tersebut, tentu saja, Oscar. Ia dikenal karena kecepatannya, keterampilannya, dan mampu menyesuaikan diri dengan permintaan apa pun. Berkat itulah, warga kota sering membantu Workshop saat masa krisis. Mereka akan membawa makanan pada pengrajin, menjual bahan baku dengan harga diskon, memberi mereka prioritas untuk menawar besar-besaran terhadap persediaan yang menipis, bahkan membawakan mereka pakaian dan selimut. Walaupun pekerjaan Oscar tidak menonjol, ia telah melakukan banyak hal untuk membantu Workshop. Justru karena tidak menonjol, hanya sedikit orang yang menghargainya.


“Kek, aku masih harus mengirimkan pesanan.”

“Baiklah, Ceramahku sudah berakhir. Kirimlah pesananmuTunggu sebentar, sebenarnya ada satu hal yang ingin kusampaikan.”

 “Hah?”

Karg menghentikan Oscar, dan tiba-tiba mengingat sesuatu.

“Kau sudah mendengar laporan tentang orang hilang dari kota yang kurang makmur dalam beberapa bulan terakhir kan?”

“Ya, aku sudah mendengarnya.”

“Jaga dan awasilah anak-anak di panti asuhan. Sebagian besar orang yang hilang adalah anak-anak muda. Mereka semua berasal dari daerah yang kumuh, jadi orang-orang mengatakan bahwa mereka mungkin pergi dan mencoba mencari kekayaan di suatu tempat untuk mati dengan sia-sia.”

Karg mempunyai firasat jika masalah tersebut jauh lebih buruk dari apa yang ia bayangkan. Peringatan seriusnya mencerminkan firasatnya.

“Kau bisa mengambil cuti seharian. Pergi dan lihatlah keadaan semua orang di panti asuhan.”

“Memang itulah yang kurencanakan hari ini. Aku akan berhati-hati. Baiklah, sampai jumpa lagi, Kek.” Oscar membungkuk kepada Karg dan meninggalkan ruangan itu. Ia merasa tidak enak karena membuat Karg mengkhawatirkannya.”

“Jika kau terus memasang senyum palsumu itu, sebaiknya kau pergi saja dan melakukan sesuatu yang benar-benar kau sukai. Anak bodoh…” gumam Karg pada dirinya sendiri. Suara itu cukup pelan sehingga tak dapat terdengar di sisi lain.

Setelah ia selesai mengirimkan pesanan hari itu, Oscar kembali ke panti asuhan. Panti asuhan itu terletak di pinggiran ibu kota, jadi perjalanan tersebut cukup panjang jika hanya berjalan kaki dari Workshop.


Oscar sudah menjadi orang dewasa yang mandiri, dan ia memiliki rumah di dekat pusat ibu kota. Baginya, perjalanan ke panti asuhan membutuhkan waktu yang agak panjang. Bagaimanapun juga, ia masih menganggap panti asuhan sebagai rumahnya. Oscar sama khawatirnya dengan Karg tentang orang-orang yang hilang baru-baru ini, dan ia lebih sering kembali ke panti asuhan beberapa bulan terakhir.

Wilayah pinggiran ibu kota adalah tempat yang sangat berbahaya. Banyak bangunan yang sudah usang dan ditinggalkan. Singkatnya, panti asuhannya berada di tempat yang kumuh.

Panti asuhan menampung banyak anak, jadi bentuknya lebih besar dari semua rumah di sekitarnya. Akan tetapi, rumahnya tidak dalam kondisi yang baik daripada rumah-rumah disana. Rumah kayu yang rusak seperti ini bahkan tidak akan dibiarkan berada di pusat ibu kota. Untungnya, itu jauh lebih kuat dari yang terlihat. Saat Oscar sudah tiba, hari sudah menjelang malam. Matahari yang terbenam membuat bayangan yang gelap di antara gang. Ia berdiri di depan gedung beberapa menit, lalu berputar ke arah belakang.

“Sepertinya alarm bekerja dengan baik” Oscar meletakkan tangannya di tanah ketika ia mengatakannya. Setelah beberapa detik, ia mengangkat tangannya kembali. Ia berjalan ke setiap sudut bangunan dan melakukan hal yang sama. Akhirnya, ia menutup matanya dan meletakkan tangannya pada bangunan itu.

Kekuatannya… bertahan cukup baik. Pelindung dan akumulator mana juga bekerja dengan baik.” Oscar menarik napas lega.

Walaupun tindakannya terkesan acak, apa pun yang telah dia temukan, tampaknya membuatnya lega.

Merasa senang karena tindakan mengukur keamanannya berhasil, ia berjalan kembali ke pintu masuk dan mengetuk pintu.

Moorin sudah mengatakan bahwa panti asuhan akan selalu menjadi rumahnya dan ia tidak perlu bersikap formal, tetapi karena telah pindah, ia merasa lebih baik jika mengetuk pintu.

“Hmm…?” Biasanya, salah satu dari anak-anak akan membukakan pintunya, tetapi tidak ada yang datang.

Mungkin aku mengetuk terlalu pelan? Oscar mencoba lagi.

Masih tidak ada jawaban. Ia bahkan tidak dapat mendengar suara anak-anak yang sedang bermain.

“Ah!?” Oscar memiliki perasaan yang sangat buruk tentang situasi ini. Sesuatu pasti telah terjadi. Baginya, panti asuhan dan orang-orang di dalamnya lebih penting dari apa pun.

“Bu!? Teman-teman!?

Akal sehatnya mengatakan jika ia perlu bersikap tenang dan memeriksa situasinya. Akan tetapi, tubuhnya bergerak dengan sendirinya.

Ia menobrak pintu dan bergegas ke ruang tamu.

“Dylan! Corrin! Ruth! Katy! Ibu! Siapa saja!” ia berteriak memanggil nama anak-anak selagi berlari ke ruang makan. Itu sekitar waktu jam makan malam. Jantungnya berdetak kencang ketika tidak mendengar jawaban apa pun dan ia secara praktis merusak pintu ruang makan dari engselnya. Di dalam, ia menemukan…


“Selamat datang kembali, sayang~... Apakah kau mau makan, mandi, atau aku sendiri, Miledi-tan? Seorang gadis yang tidak dikenalnya. Ia mengenakan celemek berenda dan berusia sekitar 14 atau 15 tahun.

Rambut pirangnya yang panjang dikuncir ke belakang, dan hampir tampak melawan gravitasi saat mengayunkan rambutnya bolak-balik. Ia memiliki kaki yang ramping dan ditutupi kaus kaki selutut. Perempuan itu menekuk salah satu kakinya pada sudut yang lucu dan berdiri dengan satu kaki. Di bawah celemek, ia menggunakan kemeja tanpa lengan, dan di tangan satunya memegang sendok masak. Ia membuat isyarat damai dengan tangannya yang bebas dan mengedip pada Oscar.

Oscar bersumpah, melihat bintang jatuh dari kedipan itu.




Share Tweet Share

Comment Now

0 komentar

Please wait....
Disqus comment box is being loaded