Bab 1 - Pertemuan yang Memulai Itu Semua | Bagian E



======================
Penerjemah: Ingin Kumenangis
Editor: DarkSoul
======================
Bila kalian merasa tidak nyaman ketika membacanya, mohon maaf. Karena memang dari sumbernya di fomat begini.



“Miledi, benar? Nama indah yang cocok dengan gadis cantik seperti Anda. Maafkan ketidaksopanan saya, tapi keluarga mana Anda berasa—"
“Memangnya penting?” Miledi masih tersenyum, namun matanya dingin. Bahkan bangsawan tolol seperti Ping paham kode itu.
Ping buru-buru melancarkan situasi dan menarik perhatiannya.
Dia bersikap seperti itu kepada Ping putra viscount, maka cewek itu pastinya bangsawan penting. Kurang lebih itulah yang dipikirkan Ping.
“Oh tidak, tidak sama sekali. Maaf. Sungguh maaf. Terlepas dari demikian, Ada yang bisa saya bantu? Saya menjamin sebagai penerus Keluarga Waress untuk memenuhi apa pun keinginan Anda!” Meski sudah begitu, dia masih saja menjual nama keluarga. Torpa dan Raul juga menghampiri Miledi, berharap mendapat kebaikannya.
Akan tetapi, sebelum mereka sampai Miledi sudah menjatuhkan bom atom duluan kepada Ping.
“O-kun, maksudku, Oscar-kun di sinikah? Aku datang ke sini ingin bertemu dengannya ….”
“Huh? O-oscar?” Mata Ping melebar. Torpa dan Raul berhenti. Bahkan para penempa tidak bekerja.
Oscar menggumam: Dasar bego! Posisiku di bengkel ini sudah cukup buruk dan kau malah memperparahnya sepuluh kali lipat! Para penempa lain tidak percaya seorang wanita bangsawan akan meminta bantuan penempa tercupu di bengkel. Lebih mengejutkannya lagi, gadis itu memanggil nama depannya.
Semua orang menoleh ke Oscar.
“Sekali lagi maaf karena blak-blakan, namun apa urusan Anda dengan Oscar? Anda mungkin tidak tahu, tapi keterampilannya, yah, kurang … ada banyak penempa lain yang lebih terampil, mereka akan senang hati memenuhi pesanan Anda.”
“Hmm? Aku hanya ingin melihat karya O-kun. Tidak betul-betul memerlukan sesuatu. Oh, di sanakah dia bekerja? Terima kasih, Pinwa-san~”
“Anu, nama saya Ping War—”
Sebelum Ping mengkoreksi, Miledi melesat ke tempat kerja Oscar.
Dia mengikuti sorot mata para penempa lain dan langsung tahu Oscar dimana.
Sementara itu, Ping berdiri tercengang di tempat.
Seorang wanita bangsawan kelas atas menjambangi Bengkel Orcus hanya untuk melihat karya maha karya Oscar.
Kemudian mendapati Oscar bersembunyi dibalik tumpukan kardus dan anak perempuan itu mendekatinya.
“Ah, di sana kau, O-kun! Ini aku, Miledi-chan! Kita belum bertemu sejak semalam!”
Mantaplah, makin banyak kesalahpahaman.
Wajah Oscar menegang.
Para penempa lain mulai berbisik-bisik satu sama lain tentang Oscar yang meniduri seorang gadis bangsawan.
Ping memelototi Oscar, matanya membara kecemburuan dan kebencian. Dia bergegas ke sisi Miledi dan Oscar, berusaha bersikap sopan seraya memperingatkan si cewek untuk jauh-jauh dari Oscar.
“Nona Miledi. Walaupun dia anggota Bengkel Orcus, sebagaimana perkataan saya sebelumnya, dia cuma seorang third-rate Synergist. Dia boleh bekerja di sini karena pak kepala kasihan padanya. Terlebih lagi, dia anak yatim. Tidak punya tata krama apa lagi pendidikan. Bukankah seseorang seterhormat diri Anda lebih berhati-hati memilih kenalan? Sekurang-kurangnya, saya pikir dia tidak layak—”
“Oh, kau masih di sini, Piress-san? Aku sudah tidak butuh bantuan, jadi kau bisa meneruskan pekerjaanmu …. Ataukah kau tidak punya pekerjaan?”
“Pfft …! Beberapa penempa tidak bisa menahan tawa mereka.
Miledi tepat sasaran.
Entah bermaksud menghina atau cuma berkomentar ceroboh, kata-katanya menusuk Ping. Pria itu merasa malu, lalu senyum palsunya pecah.
“Maafkan saya, tapi—”
“Umm, Miledi-san! Aku sudah menyelesaikan pesanan yang semalam. Malahan aku baru saja ingin mengirimnya sekarang! Kenapa tidak bergabung! Terima kasih banyak juga atas kerja samamu! Kuharap kau kembali lagi ke Bengkel Orcus bila butuh hal lain!” Oscar segera memotong Ping.
Ingin menghentikannya sebelum jadi perkelahian. Dia juga menjelaskan secara tidak langsung tujuan pertemuan semalam agar tidak menimbulkan potensi kesalahpahaman.
Sayangnya, sepertinya Miledi tidak mengerti.
“Hah? Pesanan? Tapi O-kun, kau tida—”
“Ayolah, ikut aku!” Oscar mengisi gerobaknya secepat mungkin dan menatap tajam Miledi. Dia menyeringai, tetapi seringainya tidak terlihat Oscar.
Miledi keringat dingin.
“Sial, mungkin aku sudah keterlaluan ….” lirihnya sambil mengekor Oscar.
Alamiahnya, akting payah Oscar sama sekali tidak menghilangkan kecurigaan semua orang.
Para penempa mulai bergosip satu sama lain. Tak seorang pun mempedulikan Ping yang menatap tajam Oscar.
“Hei, hei, O-kun. O-kunnnnn. Jangan abaikan aku terus~Hey, dengarkan aku~”
“….” Oscar menyusuri jalan dalam diam, menarik gerobak yang isinya perintah kerja.
Miledi mengikuti di belakang, sesekali melambaikan tangan di depan wajahnya biar mendapatkan perhatian.
Karena Oscar adalah satu-satunya penempa yang menerima pesanan dari warga biasa, dia cukup terkenal di are itu. Orang-orang mengenali merek kereta dagangnya, mereka kerap kali berhenti dan mengobrol sebentar saat Oscar lewat.
Namun tidak ada yang menyambutnya kali ini. Biarpun dia menarik lebih banyak perhatian dari biasanya.
Alasannya ada dua. Pertama adalah seorang gadis aneh yang memutari Oscar. Kedua adalah wjaah suram Oscar.
Terlampau menakutkan sebab tak seorang pun pernah melihat Oscar yang tak memasang senyum biasanya, tetapi gadis yang mengikutinya sama sekali tidak terganggu.
“Kau marah? Beneran marah nih? Kau betul-betul tidak ingin aku mendatangi bengkel? Hei, hei, O-kun. Semua orang-orang itu berpikir kita lagi kencan! Bekerja di sana akan jadi sulit sekarang! Tapi jangan khawatir, aku adalah wanita muda yang penuh tanggung-jawab! Aku akan kembali bersamamu dan memberitahu semua orang kejadian sebenarnya! Kuberitahu mereka sejatinya aku ini mengincarmu!”
“Kau sungguh merusak reputasiku selamanya!?” Oscar mendadak berhenti, kemudian memukul kepala Miledi yang muncul dari belakang.
Entah kenapa, itu malah membuatnya senang.  Rambut kuncir kudanya berayun gembira kesana-kemari, mencerminkan emosinya.
“Yey. Kau akhirnya merespon, O-kun.”
“Karena semakin mengabaikanmu semakin menyebalkan pula kau. Duhhh, kau ini seperti bencana hidup, tahu?”
“Ehehe, kau membuatku malu.”
“Itu bukan pujian. Serius deh, memangnya bertingkah sebagai orang normal selama limat detik saja akan membunuhmu?” Oscar menggosok pelipisnya sambil merasa lelah.
Miledi benar, kembali ke bengkel sekarang tidka salah. Oscar bertanya-tanya apakah akting setengah-setengahnya bisa menghentikan desas-desusnya atau tidak. Barangkali tidak.
Oscar tahu dia mesti menjauhkan inkarnasi kekacauan ini dari bengkel semisal tidak ingin situasinya memburuk.
“O-kun, ada apa? Kau kelihatan seperti orang yang baru saja dipecat.”
“Kau kira salah siapa itu? Kumohon, paling tidak ketahuilah perbuatanmu. Omong-omong, kau melanggar janji. Kukira kau orang baik, ternyata aku salah menilaimu.” Oscar mulai berjalan lagi.
“Hei! Aku selalu menepati janji!”
“Janji yang ini tidak. Semalam kau bilang takkan dekat-dekat lagi dengnaku atau keluarg—" Oscar memotong kata-katanya, telah menyadari sesuatu. Sewaktu Oscar mengangkat pertanyaan itu, jawaban Miledi adalah ….
“Hmm gimana yah …. Aku tidak bilang itu. Hanya bayanganmu saja~”
Dengan kata lain, Miledi baru saja membenarkan keinginan Oscar.  Dia tidak berjanji untuk melakukan apa pun.
“A-aku tidak percaya padamu.” Oscar menggertakkan giginya penuh frustasi. Oscar sadar itu salahnya sendiri karena tidak menagih janji sejati Miledi, tapi tetap tidak mengurangi amarah Oscar. Terutama karena Miledi barusanya mengungkitnya sekarang. Tetap saja, seumpama Oscar membiarkan dirinya ditelan emosi maka tamatlah sudah. Lelaki itu menyesuaikan kacamatanya dan berusaha mengendalikan emosi.
“Aku minta sekali lagi deh. Tolong jangan dekati aku atau keluargaku lagi. Lantaran situasi sekarang sudah lancar, idealismemu sangat berbahaya bagiku. Tolong. Jangan biarkan aku atau orang yang kusayangi terlibat.”
Miledi merengsek ke depan Oscar. Miledi berbalik menghadapnya dan terus berjalan mundur, tangan di pinggulnya.
“Idealismeku bukan bahayanya. Melainkan dunia ini. Kumohon, O-kun, jangan alihkan matamu dari kebenaran. Bahkan jika aku tidak memberitahumu demikian, kau sudah tahu betapa melenceng dan tidak adilnya dunia ini, bukan?”
“Betul, tapi jangan gara-gara itu amarah dunia menghantamku. Positifnya, saat ini kita sedang hidup dalam damai. Selama aku hidup tenang dan tidak menonjol, tidak akan ada masalah yang muncul.”
“Kau pencundang tulen, O-kun.”
“Tidak. Aku cuma berpikir realistis. Ngomong-ngomong, minggirla—”
“Tidak mau!”
“Mau aku lemparkan ke pihak berwajib?” alis Oscar berkedut was-was, tetapi Miledi hanya tersenyum dan menjerit saja.
“Tidakkk! Jangan campakkan aku, O-kun! Aku akan melakukan apa pun untukmu!”
“Miledi sialan! Kau sengaja berteriak di jalan yang penuh masyarakat!” Oscar akhirnya tidak bisa menahan emosi seketika Miledi memeluknya dan mulai memohon-mohon.
Banyak ibu rumah tangga yang melihat mereka menggelengkan kepala sedih. “Waduh, tidak kusangka Oscar-kun akan membuat seorang gadis menangis. Jahat sekali,” kata mereka. Pejalan kaki lainnya juga menyampaikan pendapat.
Perhatian jalan terfokus pada Oscar dan Miledi. Kalau beigni, inquisitor akan terlebih dahulu mendatanginya.
“Pantek,” gumam Oscar sembari menyeret Miledi menjauh.
“Sampai kapan kau mengikutiku terus?”
“Kurasa sampai kau bergabung.”
“Lantas kau akan mengikutiku selamanya … yah, aku perlu mengirimkan pesanan kepada para pelanggan. Bisakah kau tidak mengujar sesuatu yang membuat mereka salha paham? Lebih tepatnya, bisa janji tidak bilang apa-apa? Kalau tidak, kuumpankan kau ke inquisitor.”
“Okeeeeeee! Hehe ….”
Walaupun Oscar bersikap dingin, Miledi kelihatan senang. Oscar memelototinya.
“Apa semenyenangkan itu melihat reaksiku?”
“Iyatah? Aku hanya berpikir sekalipun kau terus bilang meskipun aku berbahaya dan tidak mau dekat-dekat denganku, kau tidak beneran melapor inquisitor.”
“Jangan anggap perbuatanku diwakili niat baik belaka. Aku tidak ingin repot-repot melaporkanmu. Aku masih berharap kau pergi jauh.”
“Hmm ….” Miledi tersenyum, raut wajahnya jelas tidak mempercayai Oscar. Anak laki-laki itu menggelengkan kepala dan berusaha menampiknya.
Status mereka tetap stagnan sampai beberapa waktu.


Bersambung




Facebook twitter Google+

Related Post

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Komentar