Vol 01 - Bab 01 Pertemuan Pemuda dan Gadis Cilik | Bagian 2


======================
Penerjemah : Ramune
Editor : Infa Nelia
======================


Part 2: Pemuda Membawa Pulang Gadis Cilik

Melihat semua itu, Dale punya banyak pertanyaan di benaknya. Karena jika dipikir-pikir, gadis kecil sepertinya sangat-sangat terlalu muda untuk melakukan tindak kejahatan. Umur ras Iblis lebih panjang dari manusia seperti Dale. Walaupun dia tidak mengetahuinya, tinggi gadis itu membuat Dale berpikir umurnya sekitar 5-6 tahun. Dia tidak cukup umur untuk melakukan sesuatu atas kemauannya sendiri.

Dale pun teringat akan ikan bakarnya. Saat gadis iblis itu tengah menatapnya, dia pun mengambilnya. Sepertinya gosong.

“Hmm….”

Saat Dale mengayun-ayunkannya, mata gadis cilik itu mengikutinya. Tidak salah lagi, gadis itu menginginkannya.

“Mau makan…?”

Setelah mengayun-ayunkannya, dia tidak enak hati makan di depannya. Oleh karena itu, dia memanggilnya tanpa pikir panjang. Setelah itu, dia terdiam sejenak.

Mendengar ucapannya, tatapan gadis itu tertuju pada ikan lalu ke wajahnya, yang dia lanjutkan dengan memiringkan kepalanya.

“***? ***, ***?”

“Hah? Hmm…? Sekarang, Dale yang memiringkan kepala. Meski hanya sekilas, dia merasa pernah mendengar bahasa itu sebelumnya. “Hmm, kalau tidak salah….” Dia mengingat kata-kata rekannya yang pernah memberitahu informasi ras Iblis. “...bahasa yang digunakan ras Iblis itu…,  bahasa yang kami gunakan untuk merapal mantra, kan…?”

Dia yakin.

Mantra adalah sesuatu yang digunakan untuk menggunakan kekuatan yang dinamakan sihir. Orang yang bisa menggunakannya terbatas, artinya, tidak semua orang bisa menggunakannya. Tetapi, ras Iblis sangat lihai sehingga menjadikannya sebagai bahasa utama. Oleh karena itu, Iblis disebut sebagai pengguna sihir alami.

“Hmm, kalau begitu… ‘sini, ke samping, mau, ini?”

Dari bahasa mantra yang dia ketahui, Dale menggunakan kata-kata yang setidaknya menyampaikan keinginannya. Dia tidak pernah menyangka akan menggunakan bahasa mantra untuk bicara dengan orang sebelumnya. Jadi, dia tidak tahu bagaimana cara melakukannya dengan benar.

Mendengar ucapannya, wajah gadis itu memperlihatkan ekspresi lega. Dengan lemas, dia berjalan ke arahnya, mendekatinya dengan perlahan.


Walaupun yang mengajaknya itu Dale, dia sekali lagi terdiam.

Tidak hanya gara-gara dia mendekati Dale, yang merupakan orang tidak dikenalnya, dengan tenang.

Tetapi karena dia juga 3K, kurus-kering-kerontang.

Apa yang dia bisa lihat dari baju lusuh yang dulunya pasti baju panjang, hanyalah kulit dan tulang. Dia pun tahu, jika gadis itu kurang makan. Lupakan pedang, jika Dale menyekiknya, dia pasti langsung mati sebelum bisa melawan.

Selain mengisolasi diri, kabar mengatakan jika ras Iblis sangat menyayangi keluarganya. Karena itulah, pengusiran dianggap sebagai hukuman parah. Selain itu, walaupun umurnya panjang, angka kelahiran mereka sangatlah rendah. Sebab itulah, mereka menyayangi anak seperti harta karun paling berharga.

Dale tidak pernah menyangka adanya kemungkinan anak sekecil ini, walaupun benar-benar melakukan kejahatan, akan diusir dari negaranya.

“Ayo, makanlah. Ah… kalau gini, ya, ga akan mengerti….”

Dale tersenyum dan menyerahkan ikan bakar itu kepadanya. Bahasa mantra tidak memiliki kata seperti, “makanlah”, tetapi walaupun sudah dipegang, gadis itu lagi-lagi menatap itu, lalu wajahnya.

“******?”

“Gak apa-apa, ayo makan.”

Gadis itu mengamatinya, seakan-akan menunggu persetujuannya. Dale mengangguk, jadi gadis itu mulai memakannya. Dale berpikir bahwa cara makannya seperti anak kecil.

Sedikit demi sedikit, dia menggigitnya. Karena sedang menganggur, Dale diam dan memerhatikan anak itu. .

Sambil menunggunya selesai, Dale merenungkan kata-kata apa yang akan digunakannya.

“Ah... , ‘orang, melindungi, ada?”

Terdapat kemungkinan ada orang yang menjaganya. Setelah mendengar ucapannya, dia menjawab dengan pelan.

“***, ************, ****. *** *********, ********.”

“Hmm…, bersama, tidak disini? … makhluk buas, menolak…?”

Dale hanya tahu sebagian saja, tetapi ekspresi wajah gadis itu sangat sedih. Setelah berpikir panjang, dia memegangi tangan Dale dan menuntunnya.

Sambil mengikutinya, Dale terus memikirkan alasannya.

Bentar, barusan itu hanya keputusan tiba-tiba. Apa yang akan kulakukan dengannya setelah ini?

Tiba-tiba, gadis itu berhenti dan menatap Dale dengan tatapan ragu.

“Apa? Di depan?”

Dia menunjuk ke depan dan menggeleng-gelengkan kepala.

“******”

“Makhluk buas, lagi? … dan ‘bukan,’ iya, kan?”

Sambil memikirkan tujuannya, Dale berjalan ke arah yang ditunjuknya.

“...!” Dan dia pun terhenti.

Orang seperti Dale pun, yang hidup dari hasil pedang, tidak kuat terus-terusan melihat apa yang dulunya orang tergeletak mengenaskan di depannya.

...dia, Iblis, kan? Dari bentuk tanduknya, dia… laki-laki, kan?

 Jika sudah mati, mustahil untuk mengetahuinya dan penyebabnya pun juga tidak diketahui. Lukanya sangat parah. Hutan ini ditinggali berbagai macam makhluk iblis sampai-sampai Dale tidak tahu dia dibunuh atau dimakan setelah mati.

Kedua tanduknya… masih utuh… ada dia ayahnya? Tidak mungkin anak seperti ini dibiarkan begitu saja.

Apa aku harus lega? Dia mengingat kata-kata gadis itu. Setelah menggabungkannya, sepertinya perintah terakhir ayahnya adalah:

“Pergilah dari sini. Setelah ini, makhluk sihir akan berdatangan. Anak kecil sepertimu tidak akan bisa melawannya.”

“Ah, sial. Kalau begini, aku tidak tega meninggalkannya….” Dale menggaruk kepalanya dengan hebat.

Dia mengira-ngira permintaan terakhir ayahnya.

Walaupun gadis ini mengikuti ucapannya dan pergi dari tubuhnya, dia berhasil bertahan hidup sampai Dale menemukannya barusan.

Ya, elemen bumi. Atas namaku, bergeraklah atas keinginanku. 〈〈Transfigurasi Tanah〉〉” Dale merapal mantra sihir sambil menyentuh tanah di samping tubuh itu. Tanah di sekitar tiba-tiba jatuh dan membentuk sebuah lubang.

Mungkin karena mendengar mantranya, gadis itu mendekati Dale dan melihatinya. Dale pun berkata, “setidaknya aku akan menguburnya… paham? Hmm… ‘masukan, Bumi, orang, mati.’”

Tidak lama kemudian, gadis itu mengangguk. Dale khawatir apa dia boleh membiarkan anak ini melihat ayahnya yang sudah seperti ini? Tetapi, sepertinya gadis ini sudah menerima kenyataannya. Seakan-akan memberi kata-kata terakhir, gadis itu terus mengamati “ayahnya” tanpa melihat kemana-mana.

“Mungkin dia harus mengajaknya kesini, lagi.

“*******”

“Terima kasih? Sama-sama.”

Dale mengaktifkan sihirnya lagi, yang mengisi lubang dengan tanah. Tidak lama kemudian, sebuah batu putih terbentuk di sana. Karena dibentuk dengan terburu-buru, dia tidak bisa mengukir nama, tetapi setidaknya ini sudah layak.

:Hmm…, yah…, kurasa ini takdir, iya, kan?

Dale yang ada di belakang gadis itu, sekali lagi menghela napas.

“Namaku, ‘Dale.’ Namamu?”

Gadis itu menoleh ke arahnya. Dengan ekspresi terkejut terpampang jelas di wajahnya.

“Latina.” Adalah satu kata yang diucapkannya.

“Latina, kan? Latina, ‘aku, bersama-sama, kau, mau?”

Sekali lagi, gadis itu terkejut dan akhirnya mengangguk… tanda jika dia setuju.

Setelah memerhatikan Latina, apa yang terlihat oleh Dale adalah baju lusuh, sepatu rusak dan gelang perak yang terlalu besar baginya. Dia gadis yang hebat karena berhasil bertahan hidup. Gadis ini sangat beruntung karena kejadian ini terjadi di musim seperti ini.



End of This Part

Facebook twitter Google+

Related Post

Berlangganan update artikel terbaru via email:

1 Komentar