Bab 10: Semakin Bahagia, Semakin Besar Juga Kekuatannya


=========================
Editor: DarkSoul
=========================

Aku menghitung jumlah orang yang berubah.

Secara keseluruhan hanya ada 20 pria dan wanita.

Jika aku membawa kembali orang-orang ini maka totalnya ada 27 orang.

Sampai sekarang, meski kami menyebutnya sebuah kota, hanya ada 5 orang di sana. Dengan 27 orang penduduk setidaknya dapat disebut sebagai desa.

Untuk meningkatkan jumlah penduduk dengan cepat, aku pergi mencari slave-beasts ini.

Saat aku menghampiri mereka tuk memeriksa apakah masih hidup, aku tiba-tiba menyadari sesuatu.

Dari dua puluh orang, ada satu wanita dengan telinga runcing dan rambut pirang.

Ras mirip elf ... seorang wanita dari ras Eternal Slave.

Dia tampak persis seperti Risha.

Mungkinkah dia—

"Uuuu ……… n"

Gadis itu mengerang dan membuka matanya. Sepertinya dia mulai bangun.

"Dimana?….."
"Kamu sudah bangun ya?"
"Yup ........tung– se-seorang manusia !?"

Dia bangun, tapi langsung merangkak mundur.

Dia merangkak dibantu tangannya yang masih dalam posisi duduk, gemetaran dan menatapku dengan wajah takut.

Dia takut pada manusia ...? Apa sesuatu yang menakutkan terjadi padanya?

Meski kamu begitu aku tidak akan pernah melakukan "sesuatu yang menakutkan" padanya.

Prinsipku adalah memperlakukan budak-budak mulia ini dengan ramah.

"Tidak apa-apa, aku tidak akan melakukan apa pun."

Aku tersenyum tipis, tetapi itu tidak begitu berefek padanya.

Dia menatapku sambil gemetaran.

Setiap kali aku melangkah maju dia dengan panik mundur lagi.

Uh, apa yang harus aku lakukan dalam situasi ini?

Saat aku memikirkannya.

"Master ~!"

Dari belakang, aku mendengar suara. Itu suara Risha.

Aku berbalik dan melihat Risha berlari dengan mengenakan gaun dan chokernya.

"Ada apa?"
"Master pulang terlambat, jadi aku khawatir dan mencarimu."
"Hebat juga kamu bisa menemukanku disi—— oh, iya ya. Panah yang menunjuk ke cakar slave-beasts masih ada di sini."

Seharusnya panah itu menunjuk ke arah sini. Begitu kera kembali menjadi manusia, mereka menjatuhkan banyak cakar di tanah.

Kalau begitu Risha pasti bisa mengejarku.

"Oh ya, apa kamu kesini membawa serta panacea, Risha?"
"Ya, saya masih memiliki beberapa panacea pemberian Master."
"Sekarang, beri aku panaceanya, aku benar-benar menghabiskan semua yang kubawa."
"Baikl —– apa!? Anda menggunakan semuanya?"

Selagi dia mengambil panacea, dia menyadari maksud perkataanku dan terkejut.

"Master, anda seharusnya membawa banyak kan? Kenapa anda bisa sampai menggunakan semuanya?"
"Ada monster yang sangat kuat yang harus aku lawan, jadi kugunakan untuk menghadapinya..."
"EEHHHH !? Apakah anda baik-baik saja !?"
"Seperti yang kamu lihat"

Aku membuat pose kemenangan (meregangkan tubuhku).

"Syukurlah……"

Risha menghembuskan nafas panjang. Hatinya merasa lega, kelihatan dari ekspresinya.

Saat aku menatap Risha, aku tiba-tiba teringat sesuatu.

"Menu Open"

————————————
Akito
Tipe: Bronze Card
Tingkat Kekuatan Sihir: 16
Jumlah Benda yang Dibuat: 49
Jumlah budak: 1
———————————-

Kekuatan sihir ku benar-benar berkurang, bahkan hampir habis.

Eternal Slave yang dibuat menggunakan rambut Risha akan menunjukkan kekuatan sebenarnya jika dialiri sihir.

Dalam pertarungan melawan kalajengking aku tidak hanya menghabiskan panacea, tapi hampir menggunakan seluruh kekuatan sihirku.

"Terima kasih, Risha."
"Eh?"
"Berkat kamu, aku bisa mengalahkan monster kuat itu."
"Saya tidak melakukan apa-apa."
"Ya, kamu melakukannya."

Aku menggenggam tangan Risha dan berkata.

"Kamu adalah budakku kebanggaanku, harga diriku sendiri."
"Budak kebanggaan anda, harga dirimu? ... .."

Risha menatapku dalam-dalam.

Matanya melebar dan sepertinya tidak mempercayai apa yang dia dengar.

Setelah beberapa saat berlalu— dia cekikikan lalu tertawa.

Wajahnya mengendur dan dia tersenyum lebar.


—Sihir telah diisi sebesar 10.000—

Sihir aku terisi kalau Risha lebih bahagia. Satu senyuman itu bernilai 10.000.

Aku ingin budakku bahagia, dan ketika budakku bahagia di dekatku, sihirku diisi dalam jumlah besar.

Jika itu bukanlah hubungan yang saling menguntungkan, aku tidak tahu apa itu.

EDNote: Bahasa ilmiahnya “saling menguntungkan” = Mutualisme

"Ah……"

Aku mendengar suara terkesiap tidak jauh dariku.

Asalnya dari gadis yang baru saja tersadar, seorang Eternal Slave lainnya.

Dia tidak terlihat ketakutan lagi, malahan terkejut padaku.

Sepertinya dia bisa berbicara, jadi kuajak ngobrollah dia.

"Aku Akito dan ini budakku Risha."
"Ah, ya"
"Kamu adalah…?"
"Mi, Mira"
"Mimiraah?"
"Aku Mira ~ desu! Namaku Mira!"

Reaksinya terhadap lelucon itu lucu.

Dia mungkin akan ketakutan jika aku mengajaknya bicara beberapa saat yang lalu.

"Pertama-tama, aku punya beberapa pertanyaan. Pertama, penampilanmu. Kau Eternal Slave seperti Risha, ‘kan? Kau bukan elf kan?"
"Aku seorang Eternal Slave ~ desu. Apa itu Elf?"

Kamu tidak tahu? Yah, masa bodoh.

"Apa yang kamu ingat sebelum kamu berubah menjadi kera - maksudku sebelum kamu kehilangan kesadaran?"

Aku ingat kejadian sebelumnya dan mengubah pertanyaanku.

"Umm .... Aku sedang menyusuri hutan dan tiba-tiba diserang oleh monster ...... huh, tunggu ... aku masih hidup?"

Mira memeriksa tubuhnya.

Aku ingin tahu apa menurutnya aneh, selamat dari serangan monster?

Dia seorang Eternal Slave, tetapi sepertinya keadaannya sama dengan empat orang lain yang kami selamatkan sebelumnya.

"Baiklah, satu lagi. Apa kamu ingin menjadi budakku?"
"Ya, saya mau!"


Jawaban langsung.

Ini sungguh mengejutkanku. Beberapa saat yang lalu dia sangat ketakutan padaku, aku tak pertanyaanku langsung dijawab “Iya!”.

“Benarkah?”
“Ya, kumohon!”

Mira berdiri dan membungkuk di depanku.

“Menu Open”

———————————-
Akito
Tipe: Bronze Card
Tingkat Kekuatan Sihir: 10,016
Jumlah Benda yang Dibuat: 49
Jumlah Budak: 2
———————————–
Baiklah, jumlah budakku bertambah menjadi 2.

Saat selesai, aku melihat orang lain yang masih pingsan di tanah.

19 orang sisanya adalah manusia.

Sekarang hanya menunggu mereka bangun lalu ajak bicara. Kalau bisa, aku mau mengajak orang sebanyak mungkin untuk kembali ke kota bersamaku.

"Umm …… .Risha-san"
"Iya?"
"Berapa lama kamu melayani Master agar mendapatkan kalung budak itu, Risha-san?"
"Yah ini—"
"Apa kamu mau satu?"

Aku bertanya pada Mira sambil menolehkan wajahku ke hadapan mereka.

Cara dia bertanya pada Risha dan ekspresinya saat aku menoleh ke belakang membuatku memahaminya.

Tidak salah lagi Mira menginginkan kalung itu.

"Ya ...... karena aku budak."
"Fumu ..."

Kamu ingin kalung budak itu "karena kamu seorang budak" ya?

"Oke, aku akan memberimu satu."
"Eh?"

Mengejutkan Mira, aku membuat lingkaran sihir pada kalungnya.

"A-apa itu tidak apa?"
"Kamu ingin itu, ‘kan?"
"Iya."
"Kalau begitu aku akan memberimu satu. Tanpa kalung budak, kamu tidak akan merasa terikat padaku kan?"
"Iya!"
"Risha, bantu aku juga."
"Oke."

Risha yang tersenyum tenang dan Mira yang setengah tidak percaya tampak bersemangat.

—Sihir telah diisi sebesar 2.000—
—Sihir telah diisi sebesar 10.000—

Sihirku diisi dua kali secara bersamaan.

Facebook twitter Google+

Related Post

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Komentar