Bab 23 – Perspektif Fina 3


 =====================
Penerjemah : Rena
=====================


Catatan penulis: Ini singkat.

Kami melewati gerbang dan meninggalkan kota.
Ngomong-ngomong, aku tidak mendengar tentang tujuan kami.
Apakah Tiger Wolves tinggal di hutan dekat sini?
Ketika aku bertanya, Kak Yuna mengatakan tujuan kami jauh sekali, jadi dia mengeluarkan sesuatu yang bisa kami kendarai.
Mengeluarkan?
Aku tidak mengerti apa yang dia maksud.
Aku diberitahu untuk mundur sedikit.
Kak Yuna mengulurkan *tangan beruangnya keluar dan dua objek yang satu hitam dan yang satunya lagi putih, muncul.
*Perlengkapan Beruang nya (aku nggak bakal mengingatkan hal ini lagi)
Apa itu?
Kedua objek besar mulai bergerak.
Mereka beruang.
Mereka besar sekali.
Aku ketakutan.
Mereka berdiri dan bergerak ke sisi Kak Yuna.
Kak Yuna terlihat memeluk mereka dan mengelus kepala mereka.
Kemudian, ketika aku menatap Kak Yuna,

Jangan takut. mereka binatang panggilanku, jadi itu aman. Ayo Fina, kamu coba sentuh mereka juga

Kata Kak Yuna.
Aku takut, namun aku mulai mendekati mereka dengan perlahan dan menyentuh salah satunya.
Bulunya lembut.
Entah bagaimana, mungkin beruang-beruang itu benar-benar imut.
Sepertinya yang putih disebut Hugging Bear dan yang hitam adalah Swaying Bear.
Sudah diputuskan bahwa aku akan menunggangi Hugging Bear.
Aku naik ke punggungnya.
Penglihatanku tiba-tiba bisa meninggi, jadi aku agak takut.
Tapi, beruangnya stabil dan sepertinya aku tidak akan terjatuh.
Pada awalnya kami berjalan, tetapi ketika aku terbiasa menungganginya, kecepatan kami meningkat.
Rasanya menyenangkan, dan sangat cepat.
Pemandangannya berubah dengan cepat.
Ini adalah pertama kalinya aku pergi sejauh ini.
Kami mendaki gunung.

Lalu, Kak Yuna berhenti.
Sepertinya kami akan beristirahat di tanah datar di pegunungan.
Meskipun aku hanya menunggangi beruang, aku merasa lelah.
Aku mengucapkan terima kasih pada Hugging Bear lalu turun.

Setelah Kak Yuna turun dari Swaying Bear, dia memeriksa lokasi kami.
Setelah itu, dia merentangkan lengannya lagi dan sebuah rumah tiba-tiba muncul di depan kami.
Aku ingin tahu apa yang harus ku katakan di sini ...
Sekali lagi, aku membahas apa yang baru saja terjadi.
Kak Yuna merentangkan tangannya.
Setelah itu, sebuah rumah muncul.
Seperti yang diduga, aku tidak mengerti.
Apakah semudah itu untuk memunculkan sebuah rumah?
Hal seperti itu seharusnya tidak mungkin.
Bahkan seorang anak kecil sepertiku tahu bahwa rumah seharusnya adalah sesuatu yang dibuat oleh tukang kayu.
Tapi, mengapa rumah itu berbentuk seperti beruang?

Sementara aku memikirkan itu,

Untuk saat ini, ayo masuk ke dalam dan beristirahat.

Tidak ada yang bisa aku lakukan selain mengangguk terhadap ajakan Kak Yuna.
Di dalam rumah, terdapat ruangan yang belum pernah kulihat sebelumnya
Aku diberitahu untuk melepas sepatu di pintu masuk.
Lantainya sangat cantik dan bersih.
Tentu saja, tidak mungkin aku bisa mengotori lantainya.
Aku melepas sepatuku kemudian masuk ke dalam.
Aku duduk di kursi yang ditunjuk oleh Kak Yuna.
Saat aku melihat sekeliling dengan gugup, Kak Yuna membawakan jus untukku.
Aku terkejut karena jusnya dingin, tapi rasanya sangat enak.

Aku bertanya tentang sesuatu yang mengganggu ku.

Apakah Kak Yuna seroang bangsawan dari suatu tempat?

Bukan.

Kalau begitu, seorang putri raja?

Tidak ada putri yang berpenampilan seperti aku, ‘kan? Aku hanyalah petualang biasa.

Sepertinya kedua tebakanku salah.
Meski begitu, aku tidak berpikir kalau dia adalah petualang normal.
Seorang petualang yang dapat membuat dan memunculkan rumah seperti ini, memanggil dua beruang, dan mengalahkan monster kuat sendirian, berpakaian seperti beruang setiap saat, tidaklah normal.

Setelah pertanyaanku, kami berbicara tentang jadwal hari ini sambil minum jus buah.
Sepertinya Kak Yuna akan keluar untuk mencari Tiger Wolves sendirian.
Aku mendapat izin untuk mencari tanaman obat di dalam pegunungan ini.
Aku juga diberi kebebasan untuk memilih kapan harus menguliti mayat monster.
Untuk saat ini, aku memutuskan untuk mencari tanaman obat untuk sementara waktu.
Aku takut pergi sendiri, tapi sepertinya Hugging Bear akan ikut denganku.
Kalau begitu, aku bisa tenang?
Kalau aku tidak dapat menemukan apa pun setelah beberapa saat, maka aku akan menguliti mayat. Lagi pula, itulah tujuanku di sini.

Kak Yuna pergi dengan Swaying Bear.
Aku juga pergi mencari tanaman obat selagi menunggangi Hugging Bear.
Kami berjalan melewati pegunungan.
Semoga kita dapat menemukan tanaman obat.
Si Beruang tampak senang ketika kami sedang mencari tanaman obat, untuk beberapa alasan.

Hugging Bear, apakah kamu menemukan tanaman obat?

Aku tidak mengharapkan balasan, tetapi aku tetap bertanya.
Hugging Bear menoleh ke arahku dan mengangguk.
Eh, dia benar-benar bisa mengerti ucapanku?
Hugging Bear melaju dengan cepat.
Apakah kamu mencari tanaman-tanaman obatku?
Aku juga mencari tanaman obat saat mengendarai Hugging Bear.
Itu memungkinkan karena mereka dapat dengan mudah dilihat dari kejauhan.
Itulah mengapa Hugging Bear mempercepat larinya.
Di sana!
Sejak Hugging Bear mulai berlari, kami menemukan tanaman obat dengan cepat.
Luar biasa.
Aku turun dari Hugging Bear dan mengumpulkan tamanan obat.
Jikalau aku mengambil semuanya, tidak akan ada yang tumbuh di sini nantinya, jadi aku hanya mengambil setengahnya.
Meski begitu, masih ada cukup banyak yang tersisa.
Apakah karena kami berada di pegunungan, jadi tidak ada mengambil tanaman obat itu?
Ketika aku sedang mengumpulkan tanaman obat, terdengar suara dari balik rumput.
Ketika aku melihat ke arah sumber suara, aku melihat seekor serigala.
Aku mundur karena terkejut, tetapi serigala itu dengan cepat melarikan diri.
Oh iya, aku bersama dengan Hugging Bear.
Apakah serigala itu lari karena melihat Hugging Bear?

Terima kasih, Hugging Bear.

Aku akan menepuk kepalamu.
Un, lucunya.
Aku menyimpan tanaman obat ke dalam tasku, dan beranjak kembali.
Bagus sekali kami menemukan tanaman obat begitu cepat.
Aku dapat mulai bekerja untuk menguliti mayat monster ketika aku kembali.

Oke, ayo kembali.
Aku menaiki Hugging Bear.
Namun, ketika aku mencoba untuk kembali, aku menyadari sesuatu.
Aku tidak tahu jalan pulang.
Aku tidak tahu arah mana yang benar.
Aku tersesat.
Selagi aku memikirkan itu, Hugging Bear mulai berjalan dengan biasa.
Apakah dia tahu jalan pulangnya?

Apakah kamu tahu di mana rumah berada?

Ketika aku bertanya, dia mengangguk.
Beruang itu lebih pintar dariku.

Setelah beberapa saat, Rumah Beruang muncul.
Untung kita tidak tersesat.
Itu berkat Hugging Bear.

Facebook twitter Google+

Related Post

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Komentar