Tampilkan postingan dengan label Arifureta Shokugyou de Sekai Saikyou ZERO. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Arifureta Shokugyou de Sekai Saikyou ZERO. Tampilkan semua postingan
Bab 1 - Pertemuan yang Memulai Itu Semua | Bagian E

Bab 1 - Pertemuan yang Memulai Itu Semua | Bagian E

5/12/2019


======================
Penerjemah: Ingin Kumenangis
Editor: DarkSoul
======================
Bila kalian merasa tidak nyaman ketika membacanya, mohon maaf. Karena memang dari sumbernya di fomat begini.

Bab 1 - Pertemuan yang Memulai Itu Semua | Bagian D

Bab 1 - Pertemuan yang Memulai Itu Semua | Bagian D

4/30/2019


======================
Penerjemah & Editor : DarkSoul 
======================

“Kenapa kau tidak bertindak serius saja? Sikap bodoh membuatmu sulit dipercaya.” Oscar agak menyantai. Membiarkan pundaknya tenang dan berhenti melotot.
“Aku tidak paham kau membicarakan apa~aku cuma gadis biasa, ceria, bahagia, dan cantik~” mengedipkan mata pada Oscar lagi, memperagakan pose klise serupa seperti kali terakhir. Oscar sebal.
Sungguh mengherankan siapa pun dapat menggabungkan kecerobohan dan kesungguhan sepertinya. Seolah-olah Oscar menarik perhatian seorang wanita yang teramat aneh. Berurusan dengannya saja membuat laki-laki itu sakit kepala.
“Oke, jadi kau ingin ngomongin apa? Aku tebak yah, ingin aku buatkan artifact.”
“Tidak, salah banget~terserah kau jika ingin membuat sesuatu untukku. Tunggu, jangan bilang kau sering disuruh-suruh wanita? Maaf, aku bukan perempuan semacam itu ….”
“Thunder Snake.”
“Ababababababaabab!?”  Miledi terkejut ketika Oscar memukulnya dengan serangan anti-penyusup panti asuhan. Oscar memanggil aliran listrik semacam ular dari bawah tanah dan melilit Miledi.
Ketika listrinya memudar, Miledi roboh ke tanah.
Oscar menyesuaikan kacamatanya, kemudian menatapnya lekat-lekat.
“Aku bukan orang mesum!” teriaknya.
“P=pertama-tama, kau menyerangku, sekarang berteriak …. Aku pun tidak menyangka kau begitu ….”
Gemetaran, Miledi bangkit. Gumpalan asap mengepul dari pakaiannya.
“Bisakah kau mengatakan dua kalimat serius?”
“Aku ahlinya tidak serius, tidak bisa berhenti saja. Tidak bisa apa terima diriku apa adanya, O-kun?”
Oscar menatap diam cewek itu. Setelah beberapa detik emrajuk, dia menegakkan tubuh dan sikapnya serius. Jantung Oscar lagi-lagi berhenti berdetak, dalam hati mengutuk dirinya sendiri.
“Aku hanya punya satu tujuan. Oscar-kun, aku ingin kau.”
“Kau … ingin aku? Maksudmu?”
Tidak mungkin dia memikirkan apa yang aku pikirkan, benar?
Miledi kembali memandang bulan.
“Pernahkah kau berpikir … ada sesuatu yang salah pada dunia ini?”
“Ah ….” Oscar terdiam. Tidak bisa meramu balasan.
“Yah, O-kun? Kau seorang Synergist yang tingkatannya berbeda dari Synergist lainnya. Jika kekuatanmu ditunjukkan ke khalayak dunia, barangkali kau akan menjadi orang paling terkenal. Malahan, kau bisa saja diingat oleh sejarah sebagai seorang pahlawan. Namun masih menyembunyikannya. Apa sih yang kau takutkan?”
Bukannya udah jelas? Seandainya aku memamerkan kekuatanku, semua orang-orang bertahta di dunia ini akan memperebutkanku.
Tentu saja, dia akan tenar dan mulia. Bahkan pun namanya akan terkenang sepanjang masa. Tetapi dia tidak lagi bebas. Dan paling pentingnya—
“Apakah kau takut pada Teokrasi Elbard dan gereja yang mendukung mereka?”
“Seharusnya aku tahu kau sudah tahu. Lagian kau tahu kemampuanku.” Oscar tersenyum kecut.
Ya, Oscar takut tidak bisa bebas lagi. Hal terpentingnya, dia takut pada gereja.
Gereja Suci Ehit …. Mereka mengikuti doktrin yang menyatakan manusia adalah spesies tertinggi, berkhotbah bahwasanya manusialah yang mesti berkuasa. Hampir semua manusia di benua jadi pengikut mereka.
Mereka-mereka yang diketahui memiliki kekuatan sihir dari zaman para dewa, atau sihir spesial yang khusus digunakan para monster, dianggap sebagai keturunan dewa dan berada di bawah perlindungan gereja.
Secara paksa jika perlu. Oscar akan mengalamai nasib serupa bilamana mengungkap bakatnya.
Gereja Suci yang kekuatannya setara dengan satu kerajaan penuh. Faktanya, pemimpin Teokrasi Elbard adalah Paus Gereja Suci. Sendirian, Oscar takkan pernah mampu melepaskan diri dari genggaman mereka. Meskipun dia bisa, entah bagiamana takdir keluarganya.
Miledi tersenyum akrab pada Oscar.
“Melarikan diri dari Gereja Suci tidak akan mudah. Ke mana pun kau pergi, mereka ada di sekitar kita. Di setiap kerajaan, setiap desa, jejak-jejak mereka kasat mata.” ucap Miledi.
“Tentu saja kau takut. Maksudku, pikirkan saja. Mereka semata-mata mengendalikan satu negeri. Tapi lihatlah, kemana pun kau pergi, ada kuil di mana-mana. Semua negeri mereka jelajahi, bahkan ikut campur adlam kebijakan nasional.”
“H-hei, jangan keras-keras ngomongnya—” Oscar dengan gugup meneliti keadaan sekelilingnya.
Menghina Gereja Suci sama saja bunuh diri. Semisal seseorang mendengar perkataan Miledi, dia akan langsung dieksekusi.
Namun Miledi tidak berhenti.
“Bahkan ketika terjadi peperangan antar negeri, andai kata Gereja Suci mengatakan sesuatu, mereka seketika berhenti. Tatkala masa-masa damai, sepatah kata dari mereka saja bisa menjadi peperangan. Kita terlampau khawatir untuk dicap sebagai kafir jika ingin melakukan hal benar, atau bahkan hal-hal legal. Kita diajarkan bahwa kehendak Ehit adalah teragung dan hal-hal seperti cinta serta keadilan bisa dikesampingkan. Malahan tidak berarti sama sekali.”
“M-Miledi … kun ….”
Miledi balik menatap Oscar, mata biru jernihnya melotot langsung. Ada kejernihan di dalamnya, menampakkan tekad tak tergoyahkan. Oscar tanpa sadar menelan ludah.
Memelototinya beberapa detik, lalu tersenyum.
“O-kun. Kau pastinya menyadari betapa menyimpangnya dunia ini. Lebih dari raja-raja dunia, kau takut pada Gereja Suci saleh itu. Karenanya kau bersembunyi. Agar mereka tidak melukai keluargamu untuk mendapatkanmu.”
Biasanya ketika seseorang menghina Gereja Suci mereka langsung dikecam sebagai orang kafir. Alasannya adalah bila tidak kau anggap kafir, kau juga akan dianggap kafir. Kecuali kau sangat mengenal si penghujat, kau juga bisa mengubah mereka.
Namun Oscar tidak memanggil Miledi kafir. Cowok itu masih gemetaran, tapi masih tidak menghentikan Miledi. Sebab dia mengatakan hal-hal yang senantiasa dipikirkan Oscar, tetapi tidak kuasa untuk mengutarakannya.
Miledi sangat senang karena akhirnya bertemu seseorang yang tidak mabuk agama Ehit. Terdorong oleh kesunyian Oscar, dia melanjutkan.
“Aku anggota organisasi tertentu.” kata Miledi.
“Organisasi?”
“Ya. Dunia di mana orang-orang hidup dalam ikatan hukum, juga moral mereka sendiri. Dunia yang tertib lagi adil. Dunia di mana setiap orang bebas berbicara untuk menentang ketidakadilan. Tempat orang berkumpul untuk membahas hal-hal benar. Perbedaan opini dan ide dihargai alih-alih ditekan. Dunia orang-orang bisa bebas. Itulah tujuan organisasi kami.”
“Kau punya rencana membuat agama baru, ya?” Oscar baru saja berhasil mengalihkan pandangannya dari keragu-raguan. Mengucapkan selamat kepada dirinya sendiri karena bisa tenang dan membalas canda perkataan Miledi.
Namun, kata-kata cewek itu membuatnya terperangah. Idealisme organisasi Miledi pada dasarnya adalah pemberontak. Sekumpulan orang-orang kafir yang berniat menghancurkan aturan Gereja Suci.
“Kau kira kami ini sekelompok teroris atau semacamnya …. Ahaha, yah, kurasa kau tidak salah-salah amat.”
“Pergi sana.” Respon Oscar terhadap komentar ringan Miledi.
“Maaf, tapi jawabanku adalah tidak. Aku berjanji tidak akan memberitahu satu jiwa pun, tolong jangan dekati aku atau keluargaku lagi.”
Ujar lirih Oscar, tapi ekspresinya mati serius.
Miledi tetap menatap Oscar selama beberapa detik dan menjawab lirih juga.
“Begitu ….” dia balik badan dan berjalan menjauh. Sosoknya yang kian samar kelihatan kecil bagi Oscar.
Sulit membayangkan seorang gadis kecil sepertinya bertarung melawan dunia. Apa motifnya sampai-sampai berani mempertaruhkan nyawanya begitu? Mungkin dia hanya gila … lebih mudah bagi Oscar jikalau itu masalahnya.
Dirinya teryakini ucapan Miledi tidak cukup menyentuhnya. “Oh ya, bisa beritahu semua orang makanannya enak?” “Oke.”
Miledi melirik ke belakang dan tersenyum pada Oscar. Lalu, tanpa berkata apa-apa lagi, dia menghilang ditelan kegelapan malam.
Seakan-akan keberadaannya cuma roh.
Oscar menguatkan giginya, menahan diri utnuk tidak mengatkaan sesuatu.
Merkea takkan pernah bertemu lagi. Demi kebaikan kami berdua, ujar si laki-laki dalam hati.
Keesokan harinya ….
Miledi muncul di tempat kerja Oscar.
“Halo, para penduduk budiman Bengkel Orcus! Akulah idola paling terkenal di seluruh dunia, Miledi! Di mana O-kun manis kecilku?”
Sejumlah penempa berwajah gagah kebingungan pada gadis yang baru saja muncul di pintu belakang. Tampaknya dia tidak mengindahkan sopan santun karena ujuk-ujuk berjalan melewati para penempa seraya bilang, “Permisi.”
“Waw, salah satu dari tiga bengkel terbesar Velka memang hebat. Negeri ini sungguh terkenal akan teknologinya. Banyak penempa di mana-mana~” seru Miledi sambil melihat-lihat bengkel.
Di bagian belakang tempat itu, Oscar mendungu. Dia menduga takkan pernah melihat Miledi lagi. Tidak ingin sosoknya kelihatan, dia buru-buru bersembunyi.
Berutungnya banyak pesanan hari ini sehingga dia bisa bersembunyi di balik tumpukan pekerjaannya yang telah selesai.
D-d-dia ngapain di sini!? Menyesuaikan kacamatanya berulang-uang.
Para penempa saling bertatap mata, bertanya-tanya siapakah gadis ini.
Walaupun si gadis menyeringai kek orang goblok, pakaian mahal menandainya sebagia seorang bangsawan, sekurang-kurangnya orang kaya. Biasanya, siapa pun yang merengsek masuk ke bengkel akan disuri, tetapi Miledi begitu terang-terangan, membuat para penempa bimbang.
Apa lagi karena andaikan dia putri bangsawan, mereka tidak boleh bersikap kasar padanya.
Tepat saat seseorang menghampiri kepala penempa, seorang pria muda melangkah maju. Meskipun dia sendiri seorang bangsawan, mengayunkan tangannya seperti pedagang. Ping tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk menjalin suatu koneksi penting. Dia tersenyum sesanjung mungkin.
“Nona, apa yang Anda perlukan? Mungkin saya bisa membantu. Ah, maaf tidak memperkenalkan diri lebih awal. Saya adlaah Ping Waress, putra Viscount Waress.”
“… Hai! Aku Miledi.” Miledi mengamati Ping dengan cermat selama beberapa saat, tapi tersenyum lagi dan balik memperkenalkan diri.
Para penonton sudah tahu senyum tersebut palsu, namun ….

End Of The Part

Bab 1 - Pertemuan yang Memulai Itu Semua | Bagian C

Bab 1 - Pertemuan yang Memulai Itu Semua | Bagian C

1/23/2019


======================
Penerjemah : Lemon
Editor : Arkais
======================
Bab 1 - Pertemuan yang Memulai Itu Semua | Bagian B

Bab 1 - Pertemuan yang Memulai Itu Semua | Bagian B

1/10/2019

=======================
Penerjemah : Lemon
Editor : Arkais
=======================
Bab - 1 Pertemuan yang Memulai Itu Semua A

Bab - 1 Pertemuan yang Memulai Itu Semua A

11/07/2018

Kerajaan Velka, kota Velnika.
Velka berada di bagian barat daya Benua Utara. Jaringan terowongan yang besar membentang jauh di bawah ibu kotanya.
Terowongan dipenuhi dengan banyak sungai dengan batu hijau, yang memberinya nama “The Green Way”.
Monster dan para pembunuh berkeliaran di kedalaman mereka, jadi itu tidak berarti rute yang aman untuk bepergian. Namun, karena bijih langka yang bisa ditambang dari sana, terowongan itu masih populer.
Velka sendiri dulunya merupakan sebuah bagian dari “The Green Path”. Kerajaan bermula sebagai kota pertambangan yang dikembangkan untuk mengekstraksi bijihnya. Pedagang dan pengrajin kemudian bermigrasi ke kota, yang akhirnya tumbuh dan menjadi kota yang berkembang. Kota yang berkembang ini kemudian berkembang menjadi sebuah negara kecil, hingga akhirnya menjadi wilayah yang kuat seperti sekarang.
Negara ini memproduksi semua senjatanya sendiri, peralatannya dan bahkan artefak sihir. Velka dikenal di seluruh dunia sebagai ranah penemu dan pengrajin. Sebagian dari mereka iri atas kekayaan sumber daya alam dan warga negara mereka yang berbakat.
Insinyur dan pengrajin kerajaan selalu bersaing satu sama lain, dan ada beberapa guild yang sangat berbakat yang namanya menjadi terkenal.
Salah satunya adalah Workshop Orcus. Dia hanya merekrut Sinergis yang paling berbakat. Ketenarannya begitu besar sehingga bahkan para bangsawan menganggapnya sebagai kehormatan untuk diterima untuk belajar di sana. Fokus utamanya adalah menempa senjata. Dan berkat iklim politik saat ini, mereka sangat diminati.
Markas besar Workshop Orcus membayangi bangunan di sekitarnya. Hari ini juga, workshop itu diisi dengan bunyi-bunyi sang sinergis dan pengrajin ahli yang menguji murid-murid mereka. 
Seperti semua gedung Workshop Orcus, markas besar dibagi menjadi beberapa bagian, dengan setiap bagian memiliki spesialisasi yang berbeda. Kamu bisa menebak apa yang setiap bagian khusus hanya dengan melihat alat dan bahan yang digunakan.
Sebagian besar pengrajin dikelilingi oleh senjata, baju besi dan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuatnya. Lainnya disembunyikan oleh tumpukan segala macam barang.
Karena bisnis utama dari workshop Orcus adalah senjata, masuk akal untuk sebagian besar bagian didedikasikan untuk mereka. Posisi orang-orang di bengkel ditentukan oleh kualitas produk yang dapat mereka hasilkan.
Namun, ada seorang pengrajin di sana yang dikelilingi oleh sesuatu yang lain. Bagiannya secara radikal berbeda dari bengkel tersebut.
Pemuda yang bekerja disana ini memiliki fitur halus dan lembut, dengan tubuh yang besar dan tipis.
Dia mengenakan kacamata berbingkai hitam dan memiliki rambut hitam sebahu diikat dengan kuncir kuda.
Dia mengenakan celemek di atas kemeja biru dan celana pucatnya yang sederhana. Ada berbagai alat yang diselipkan ke kantong celemeknya yang tak terhitung jumlahnya.
Matanya yang tajam menatap tajam ke lingkaran sihir dan material yang terkandung di dalamnya. Lalu dia menepuk tangannya dan lingkaran sihir di depannya mulai bersinar. Mana-nya berwarna putih kekuningan yang lembut. Itu mengingatkan saya pada sinar matahari, jenis yang bisa dilihat pada hari musim semi yang panas.
Bahan-bahannya berkumpul di dalam lingkaran. Ciptaan pemuda itu memiliki kelengkungan yang sempurna, keseimbangan sempurna, dan pegangan yang baik yang menunjukkan pertimbangannya terhadap si pembawa.
Dia melihat dengan tepat apa yang telah dilakukannya, tampaknya puas.

“Sempurna. Ini barang yang bagus.”

Dia tampak bangga dengan pekerjaannya. Dengan lembut, dia mengambil panci abu-abu.
Dia kemudian menempatkannya dengan hati-hati di dalam kotak. Kotak itu sudah diisi dengan kendil, panci, piring, dan peralatan dapur lainnya.
Tersebar di sekitarnya adalah barang-barang biasa lainnya. kandil, meja cantik, peralatan konstruksi, gunting, alat tulis, dan produk sehari-hari lainnya memenuhi tempat kerja.
Tidak ada satu pun senjata yang terlihat, meskipun ini adalah toko senjata.
Ada, secara teknis, beberapa barang tajam, tetapi tidak satupun dari mereka bisa dianggap sebagai senjata.
Mereka semua pisau dapur. Pisau untuk memotong sayuran, pisau untuk memotong daging, bahkan pisau untuk mengiris roti. Dan mereka semua kualitas bagus.
Namun, mereka masih semua peralatan dapur. Sementara semua pengrajin lainnya bekerja keras untuk membuat senjata terbaik, pemuda ini membuat barang biasa saja. Tentu saja, itu membuatnya menonjol. Bukan karena kemampuannya.
Semua orang membencinya, terutama karena workshop Orcus memperlakukannya dengan baik meskipun kekurangannya sangatlah jelas.

“Tsc ...”
“Hmph.”

Orang-orang mengejek.
Pria muda itu menoleh untuk melihat dua orang bersama tuannya menghina pekerjaannya. Mereka terlihat tidak senang.
Dia tersenyum dengan canggung sebagai jawaban dan kembali ke pekerjaannya, mencoba mengabaikan mereka.
Meskipun para pengrajin membencinya, kebanyakan dari mereka tidak menghalangi. Lagi pula, mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka sendiri.
Tetapi seperti dalam kelompok mana pun, akan selalu ada minoritas yang menolak untuk menyesuaikan diri. Hal yang sama terjadi di sini. Sementara sebagian besar orang puas untuk meninggalkan pemuda itu sendirian, beberapa merasa terpaksa menyebabkan dia kesusahan.
Pemuda itu menyebarkan serpihan kayu di sekitar untuk melindungi pot dan melindungi kreasinya. Saat itulah seseorang mendekat, mencari masalah.

“Hei,orang gagal. Berapa lama lagi kau menyimpan omong kosong seperti itu? Apa yang terjadi dengan hal yang saya minta untuk kamu lakukan?” Suara yang keluar itu mengejek dan tidak menyenangkan.

Orang yang baru datang itu kecil dan gendut, dan dia memiliki dua penjaga di sampingnya. Yang satu tinggi dan kurus, sementara yang lain memiliki mata yang sepertinya melompat keluar dari rongganya. Ketiganya tersenyum jahat.

“Halo, Waress-san. Saya sudah menyelesaikan apa yang Anda minta kepada saya.”

Ping Waress adalah anak ketiga dari keluarga yang mulia Waress. Pemuda itu menoleh ke anak Duke dan menundukkan kepalanya dengan hormat, meskipun Waress merendahkannya.

“Hai Waress telah memintanya untuk dilakukan dari kuota kerja Ping hari ini.”

Dia terlalu malas untuk melakukannya sendiri. Pemuda itu mengambil sebuah kotak di dekatnya dan mengulurkannya kepadanya.

“Apa, sudah?”
“Hei, kamu lebih baik tidak melakukan itu daripada menjadi orang bodoh! untung Holden meminta saya secara khusus untuk pekerjaan ini. Saya meminta bantuan Anda untuk memberi Anda kesempatan untuk mengasah keterampilan Anda, jadi sebaiknya Anda tidak membalas niat baik saya agar tidak dikeluar dari sini!”

Sebenarnya dia tidak benar-benar membuat permintaan pribadi semacam itu. Dia telah membawa beberapa baju besi untuk diperbaiki, tetapi dia telah meminta bengkel secara keseluruhan, bukan pengrajin khusus.
Bahkan, sebagian besar perbaikan diserahkan kepada pengrajin yang lebih tua. Ping hanya bertugas sebagai perantara saja.
Dengan kata lain, dia secara kebetulan ditugaskan untuk tugas ini.
Pemuda itu tahu ini dengan baik, tetapi dia tidak suka konflik, jadi daripada berdebat, dia hanya mengerutkan kening. Dia memiliki banyak cara guna menggapi orang.
Bahkan sebelum dia bisa mengatakan “lihat sendiri” salah satu bawahan Ping berkata,

“Ayolah, Ping-san. Apakah Anda tidak berpikir bahwa ini sedikit berlebihan, bahkan untuk dia? Setidaknya yang bisa dia lakukan adalah memanggilnya mantan jenius.”

Torpa Parson, pria yang berbicara, adalah putra kedua Baron Parson.
Pria dengan mata menonjol itu adalah Raul Streya, putra keempat Baron Streya. Dia mendukung Torpa, memberi isyarat seperti badut.

“Jadi, Torpa-kun. Kita juga harus sedikit melupakan ‘mantan’. Bagaimanapun juga, ia adalah seorang anak yatim piatu yang ditemui sang Guru secara pribadi. Tentu saja, dia tidak bisa membuat senjata untuk menyelamatkan hidupnya sendiri dan menghabiskan seluruh waktunya menciptakan sampah, tapi dia masihlah jenius. Terlebih lagi, dia dibayar untuk melakukan semua memo ini! Kita harus menghargainya.”
“Ayolah, tidakkah kamu pikir kamu harus menunjukkan kepada kita keterampilan yang sangat mengesankan untuk tuannya? Jangan beri tahu saya bahwa usia telah membuatmu berkarat, kamu masih muda. Kamu masih baik, bukankah begitu Oscar-kun?

Para penonton di dekatnya tertawa mendengarnya.
Pengrajin lainnya tidak memiliki masalah pribadi dengan Oscar seperti Ping, tetapi mereka juga terganggu oleh seorang anak yatim yang memiliki perlakuan khusus. Terutama karena mereka tidak pernah melihat jenius yang seharusnya.
Orang-orang terus mengejek Oscar, tetapi dia hanya tersenyum dan menundukkan kepalanya. Dia diam-diam memperpanjang kotak yang berisi gesper yang dipesan Ping.

“Kenapa kamu tidak mengatakan apa-apa, …..eh?”

Ping membuka kotak itu dan mengerutkan kening. Terlepas dari kenyataan bahwa Oscar telah melakukan apa yang dia minta, dia tampak tidak senang.

“Seperti yang kamu katakan. Saya masih seorang pengrajin yang tidak berpengalaman, mengambil keuntungan dari kemurahan hati tuannya.”
“Jika kamu tahu itu, maka kamu harus pergi dari sini.”
“Kau memalukan nama Orcus! Kenyataan bahwa memilikimu di sini adalah penghinaan!”

Bahkan permintaan maaf saja tidak cukup untuk menenangkan Ping. Bahkan, sepertinya itu membuatnya marah. Jeritannya yang marah membuatnya menjadi pusat perhatian, melainkan bukan Oscar.
Ping tidak hanya pendek dan gemuk, tetapi juga pelit. Dia adalah tipe orang yang menghina orang lain dari belakang dan mengintimidasi siapa saja yang lebih lemah darinya.
Namun, dia jarang kehilangan kepalanya, setidaknya tidak cukup untuk berteriak.
Sepertinya cacing itu lebih marah dari biasanya hari ini ... Apakah dia akan mengacaukan apa pun sebelumnya atau sesuatu? dia masih mengeluarkan senyum, Oscar putus asa memikirkan cara menenangkan Ping. Tapi sebelum dia bisa, Ping melanjutkan.

“Serius, aku tidak percaya tuan menyebut kamu jenius. Saya pikir dia kadang-kadang bisa membuat kesalahan juga.”

Ping sangat gugup sehingga dia tidak menyadari bahwa dia menghina sang Guru dan mengubah perilaku setiap orang. Celaan para pengrajin sekarang diarahkan pada Ping, bukan Oscar. Bahkan dua temannya sedang meringis saat mereka saling berbisik.
Oscar tahu dia harus menangkal situasi sebelum para pengrajin itu membunuh Ping. Kepala Orcus Workshop saat ini sangat dihormati oleh semua, dan mereka tidak akan tahan melihat dia dihina.
Tapi sebelum aku bisa melakukan apa pun ...

“Oh, kamu pikir aku pikun, kan? Apakah Anda mengatakan bahwa saya, Orcus, membuat kesalahan, Ping? Seseorang sepertinya sangat penuh dengan kepercayaan diri disini.”
“Oooi !?” Ping berteriak seperti babi.

Suara Orcus tidak terlalu marah, tetapi Ping tetap melangkah mundur. Wajahnya pucat karena ketakutan. Torpa dan Raul terlihat lebih buruk.
Orcus adalah pria yang besar. Dia tidak hanya besar, tetapi seluruh tubuhnya ditutupi dengan rambut tebal. Pahanya cukup besar untuk menghancurkan seorang pria di antara mereka.
Bahkan, dia sering bingung dengan seorang  yang mirip beruang dari komunitas Haltina, meskipun dia manusia dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dia tidak memiliki telinga beruang atau ekor.
Ping tersenyum dengan perasaan bersalah dan mencoba untuk menyembunyikan kesalahannya.

“M-Master ... a-apa yang kamu lakukan di sini?”
“Ini bengkel milikku. Apa masalahnya diriku berada di sini?”
“H-hmm, tidak ada! Hanya saja, saya dengar Anda ada urusan di istana hari ini.”

Karg D. Orcus, kepala Orcus Workshop saat ini, mendengus dan mengintip di kotak Oscar. Dia tidak repot-repot menjawab pertanyaan Ping.
Kemudian dia mengambil sesuatu darinya dan memeriksanya dengan hati-hati.
Keheningan yang terjadi begitu menekan sehingga para pengrajin lain berhenti bekerja dan menunggu menahan napas.
Begitu dia baru saja melihat, dia kembali memandang Ping.

“Itu seharusnya pekerjaanmu, Ping ... Kenapa Oscar mengerjakannya?”
“Ini kesalahpahaman, master. Dia baru saja hanya melihat-lihat, jadi saya pikir jika dia bebas, dia bisa membantu saya sedikit. Saya tetap yang melakukannya.” Ping bersujud di hadapan Karg.

Namun, Karg bahkan tidak mau repot-repot mendengar jawabannya dan beralih ke Oscar. Oscar mempertaruhkan senyum canggung yang sama seperti yang selalu dia katakan, dan tidak mengatakan apa-apa.
Karg menghela nafas dan mendekati Ping.

“Saya Mengerti. Saya rasa itu berarti saya bisa mengharapkan tingkat kualitas dari pekerjaanmu selanjutnya juga?”
“Huh? Apa?”

Karg menyeringai dan menunjukkan Ping benda di tangannya.

“Pelindung pengikat itu dibuat dengan sangat baik.” “Ini fleksibel di semua tempat yang tepat, sehingga menyerap dampak dengan baik. Selain itu, ia dirancang sedemikian rupa sehingga seorang Sinergis dapat dengan mudah memperbaikinya jika ia terlibat dalam pertempuran.”
“Saya mengerti ...”

Semua pengrajin lainnya beralih ke Oscar dengan terkejut. Ekspresinya sulit dimengerti.
Hanya Ping yang gagal memahami sindiran di balik kata-kata Karg. Dia tidak mengerti mengapa semua orang melihat Oscar.
Melihat kebingungannya, Karg menjelaskan lebih jelas.

“Alih-alih mencoba memamerkan keahlianmu, kamu telah membuat gesper itu agar sesuai dengan kebutuhan pembawa dengan sempurna. Ini mungkin tampak sederhana, tetapi ini jelas merupakan gesper kelas satu. Jadi saya bertanya kepada Anda, Ping, bisakah saya mengharapkan Anda melakukan pekerjaan berkualitas tinggi semacam ini di masa depan? Hah?”
“......”

Keringat dingin menetes ke punggung Ping. Karg meminta lebih dari yang bisa dia berikan. Dia tidak memiliki keterampilan untuk dengan terampil menciptakan hal-hal seperti gesper ini.

"A-aku merasa terhormat dengan pujianmu, Ketua. Namun, bahkan saya terkejut dengan seberapa baik hal itu. Sejujurnya, um, saya tidak bisa mengatakan dengan pasti bahwa saya dapat melakukannya lagi. Selain itu, mengerahkan begitu banyak usaha ke dalam semua sehinga proyek saya akan memperlambat diriku terlalu banyak.”
“mengerti. Dalam hal ini, lakukan pekerjaan rumah Anda sendiri. Bekerjalah dengan keras sampai kamu cukup baik untuk membuat jenis produk berkualitas ini secara teratur.”

Tatapan Karg begitu kuat sehingga bahkan seekor naga akan meringis di hadapannya.

“Oooi !?”
“Y-ya, tuan! Maafkan saya, Pak!”

Ping menerima kotak yang diberikan Oscar dan hampir tersandung sendiri karena terburu-buru melarikan diri. Torpa dan Raul mengikutinya dengan terburu-buru. Pengrajin lainnya kehilangan minat dalam kebingungan dan kembali ke bisnis mereka.

“Hmm ... Ketua? Terima kasih atas bantuannya ...”
“Datanglah ke kantorku.” Karg berbalik dan pergi.

Dia mengangguk dengan anggukan di ikuti oleh Oscar setelahnya.
Sambil mendesah, Oscar mengikuti Karg. Senyum canggungnya belum meninggalkan wajahnya.


Prolog

Prolog

11/07/2018

==========================
Penerjemah : Yeux Aye
Editor : RiceCooker
==========================

Sesosok beristirahat di tengah ruangan putih.
Seseorang mungkin memperhatikan dengan pandangan bahwa ada sesuatu yang aneh tentang dirinya. Sebagai permulaan, dia mengenakan topeng aneh dengan wajah tersenyum. Selain itu, lengan dan kaki yang keluar dari mantel putih susunya, meskipun dibuat dengan artistik, jelas terbuat dari logam.
Itu golem yang tergeletak di tengah ruangan.

“Ugh, aku akhirnya berhasil menyelesaikan perbaikanku. Sialan bocah kecil itu. Beraninya dia meninggalkan beberapa bahan peledak di sana pada akhirnya!”

Suara yang dia ucapkan terdengar muda dan feminin. Pemiliknya, golem yang tergeletak di tengah ruangan, adalah Miledi Reisen. Dia adalah pencipta Reisen Gorge, salah satu dari Tujuh Labirin Besar, dan seorang Pembebas.
Dia melihat ke langit dan berteriak,

“Lain kali aku melihatnya, aku akan memberi anak itu pelajaran!” Dia terdengar seperti seorang anak yang membuat ulah, berjuang di lantai.

Jubahnya bergerak liar di sekelilingnya, dan ekspresi topengnya berubah.
Setelah pemeriksaan lebih dekat, orang bisa melihat bahwa jubahnya hangus di ujungnya dan ditutup dengan jelaga. Ada celah kecil di topengnya juga.
Hajime adalah penyebab kesengsaraannya saat ini dan alasan dia dalam keadaan yang menyedihkan. Dia yang pertama menyelesaikan labirin yang dia buat. Dan hal pertama yang dia lakukan setelah mengalahkannya adalah menuntut agar dia memberikan semua harta miliknya.
Dia berencana memberinya segalanya kecuali barang-barang yang benar-benar dibutuhkan untuk mempertahankan labirin, tetapi dia bersikeras untuk mengambilnya.
Dia bukan penakluk, dia hanya seorang pencuri. Tidak ada master labirin baik kepada orang untuk menyerahkan semua barangnya. Itu adalah tindakan bandit secara umum.
Tentu saja Miledi menolak. Setengah bercanda, dia menguji jalan pintasnya untuk membongkar dan membawa mereka keluar dari labirin. Namun, sebelum mereka dibuang, bocah itu melemparkan beberapa granat ke arahnya sebagai hadiah perpisahan terakhir.
Granat-granatnya tidak hanya meledak di ruangan  paling dalam dari labirin, tetapi juga bagian dari tempat peristirahatan pribadi. Dalam kesedihan Miledi telah mengatur tugas memperbaiki labirinnya yang berharga. Ini sudah selesai sekarang.
Dia mengutuk Hajime untuk beberapa saat lagi, mengeluh tentang pembalasan yang tidak adil yang dia terima untuk lelucon tidak berbahaya yang dia berikan kepadanya. Berbicara secara obyektif, sangat sulit untuk merasa simpati terhadap seseorang yang melempar seseorang keluar dari rumah mereka.
Begitu dia selesai, keheningan kembali ke dalam ruangan.

Miledi adalah satu-satunya penghuni di labirin ini. Dia duduk jauh di dasar ngarai yang dihindari semua orang. Tempat gelap di mana sinar matahari tidak pernah tercapai.
Kecuali kutukan Miledi, tidak ada suara yang lain. Karena dia adalah golem, bahkan tidak ada suara napas atau detak jantungnya.
Setelah beberapa saat terdiam, Miledi mengangkat tangannya ke langit-langit.
Jika ada cahaya, tangan logamnya akan bersinar terang. Golem ini adalah sesuatu yang sangat berharga bagi dirinya. Merupakan bukti hasil kerja kerasnya. Tangan anorganiknya sangat berbeda dari tangan aslinya ketika dia masih hidup.

“Dan untuk berpikir ... seseorang yang dapat mengumpulkan bukti kami benar-benar muncul…”

Dia menutup tangannya yang terjulur ke kepalan tangan. Kenyataan itu akhirnya memukulnya. Lalu dia melihat ke sudut.
Kamar dia sekarang adalah kamarnya yang berarti terdapat barang-barang pribadinya disimpan di sana.
Ada rak buku di sudut yang dilihatnya, dan banyak bingkai foto memenuhi rak. Dahulu, seorang ahli sinergis yang sangat ahli menciptakan perangkat yang dapat merekam semua detail adegan dan menyalinnya secara sempurna. Foto-foto yang diambilnya dengan perangkat itu adalah hadiahnya untuk Miledi dan harta berharganya.
Miledi menghampiri gambar-gambar itu dan memeriksa masing-masing gambarnya, mulai dari akhir. Dia telah melakukan hal yang sama ratusan, tidak, ribuan kali, tetapi perasaan yang berbeda telah muncul padanya kali ini.

“Berapa banyak waktu telah berlalu sejak hari itu ... Hari kita dikalahkan. Hari kita bersumpah untuk berjuang, untuk menciptakan cahaya harapan bagi mereka yang akan datang nanti. Itu ... pasti lebih dari beberapa abad, setidaknya. Seribu tahun? Dua ribu? Ahaha, aku bahkan tidak ingat ...”

Sebagian besar foto berasal dari seorang wanita muda. Ada satu di mana dia berdiri di tengah kota, yang lain dikelilingi oleh alam, dan satu lagi bersamanya di padang pasir yang luas. Semua itu, dia tersenyum, dengan semua orang di latar belakang tersenyum di sisinya.
Orang yang mengambil foto-foto ini tahu bagaimana cara menangkap keindahan mereka lebih baik daripada orang lain.
Pandangan Miledi melekat di salah satu foto. Itu adalah foto tujuh orang yang berdiri di atas bukit, dengan matahari terbit di punggung mereka.
Salah satunya adalah seorang gadis pirang. Dia menarik pria yang malu dengan kacamata lebih dekat. Di sampingnya adalah seorang pria ramah, namun dengan penampilan yang lembut, wanita Dryad tersenyum menggoda, seorang yang sudah tua serius dan botak, seorang wanita dari ras naga tersenyum penuh kemenangan dan, terakhir, seorang pria iblis yang sedang melihat gadis pirang dengan terlihat sedikit tidak senang.

“Teman-teman ... akhirnya terjadi. Waktu terus bergerak maju. Itu bukan mimpi. Jalan yang kami pilih ... benar-benar membuka jalan bagi mereka yang datang setelah kami.”

Jika Miledi mempertahankan bentuk manusianya, dia akan menangis. Suaranya gemetar dan berhenti.
Jari-jarinya dengan ringan mengusap gambar bocah lelaki berkacamata.
TL note : saya merasa sedih, saya mengerti perasaanmu ketika tinggal hanya dirimu dan teman seperjuanganmu telah tiada.
Editor note :  Entah kenapa saya malah prihatin sama tltornya dibanding ke miledi :v.

“O-kun. Bisakah kamu percaya itu? Anak-anak itu mereka menyelesaikan labirin terlebih dahulu. Dia harus menjadi yang paling sulit, dan yang setiap orang harus bertahan sampai akhir. Dan kamu tahu apa? Pemimpinnya juga mempunyai skill Sinergis, sama seperti dirimu. Tapi sungguh kebetulan yang menakjubkan...” Miledi tertawa.
“Tapi kepribadiannya benar-benar berlawanan dengan milikmu. Meski begitu, dia luar biasa. Artefak-artefaknya itu gila. Dia seharusnya sudah selesai menggunakan teknik yang kamu tinggalkan.” Dia terus berbicara sampai dia terdiam. Dipenuhi oleh emosi, dia meletakkan tangannya ke dadanya.

Akhirnya, dia mengalihkan pandangannya ke foto terakhir. Ini spesial. Dia dibesarkan dengan menggabungkan penemuan Oscar yang luar biasa dengan kekuatan regenerasi yang dimiliki oleh rekan-rekannya. Bersama-sama, mereka menciptakan gambaran masa lalu. Itu menunjukkan seorang gadis berambut merah muda yang tersenyum. Dia mengenakan seragam pembantu, dan berdiri di sampingnya adalah gadis pirang yang sama di foto-foto lainnya kecuali penampilannya yang lebih muda. Ada ekspresi kebingungan di wajahnya.

“Semuanya dimulai denganmu. Perjalanan yang saya warisi darimu akhirnya berakhir.”

Miledi tidak memiliki lebih banyak kekuatan yang tersisa. Dia mungkin memiliki kekuatan yang cukup untuk satu pertarungan terakhir dengan kekuatan penuh, tapi itu sudah lebih dari cukup. Dia telah dipersiapkan untuk ini selama ribuan tahun.
Miledi melihat ke langit-langit. Dia sedang memikirkan bocah yang telah menaklukkan labirinnya. Akhirnya.
Diam-diam, dia berdoa.

“Orang-orang itu akhirnya bebas…” Itu adalah keinginan yang kesepian dan sunyi.


[Novel] Arifureta Shokugyou de Sekai Saikyou ZERO Bahasa Indonesia

[Novel] Arifureta Shokugyou de Sekai Saikyou ZERO Bahasa Indonesia

11/07/2018
Sinopsis
Ini adalah kisah tentang apa yang terjadi dengan baik sebelum Hajime dipanggil di Tortus. Oscar Orcus dianggap sebagai sinergis kelas tiga oleh kebanyakan orang. Dia menghabiskan hari-harinya dengan tenang bekerja untuk mengirim uang ke panti asuhan. Segalanya berubah ketika badai yang disebut Miledi Reisen hadir dalam hidupnya. Miledi melihat potensi yang tersembunyi dalam Oscar dan mengundangnya dalam perjalanannya untuk mengalahkan para dewa. Oscar tidak mau berpartisipasi dalam perjalanan apa pun dan menolak. Tapi Miledi dengan gigih, dan situasinya berubah drastis ketika panti asuhan yang ingin dia lindungi diserang. Pada akhirnya, apa yang akan menjadi keputusan pahlawan tak terduga kita?